Stok Beras Kaltim Aman2011-01-19 05:53:52
SAMARINDA,Dua bulan ke depan, hingga memasuki panen raya Maret mendatang, stok beras di Kaltim masih cukup aman. Menurut data Badan Ketahanan Pangan (BKP) stok beras Kaltim mencapai 66.250 ton, sementara konsumsi beras setiap bulannya sekitar 33.000 ton. Penjabat Kepala BKP Kaltim, Drs. Syaiful Akhyar MSi didampingi Sekretaris BKP Kaltim Mukhransyah mengungkapkan stok dan harga beras diprediksi kembali stabil setelah panen raya Maret mendatang. Selain itu, dalam dua bulan ke depan panen masyarakat diperhitungkan mencapai 10.000 ton sehingga akan menambah stok yang tersedia di pasar dan Bulog. “Masyarakat tidak perlu khawatir atau was-was sebab stok beras kita masih cukup aman,” kata Syaiful Akhyar. Jumlah kebutuhan beras Kaltim yang harus dipasok dari luar daerah (Jawa Timur dan Sulawesi), rata-rata perbulan berkisar 10.000 ton, sementara kebutuhan utama dipasok oleh produksi beras petani lokal. Diakuinya, dalam beberapa waktu terakhir terjadi kenaikan harga berasakibat tingginya harga beras dari luar daerah yang disebabkan oleh menurunnya produksi di Jawa Timur dan Sulawesi. Namun Mukhransyah menegaskan kondisi tersebut perlahan akan membaik seiring panen yang dilakukan beberapa bulan ke depan. Terkait beberapa daerah yang masih melakukan pembelian beras ke luar daerah yakni Samarinda, Bontang, Balikpapan, Sangatta dan Tarakan. "Hingga kini pembelian beras dari luar daerah masih lebih ekonomis karena faktor geografis daerah yang berjauhan. Pedagang beras di Samarinda, Balikpapan, Bontang dan Tarakan cenderunglebih ekonomis membeli beras dari Sulawesi dibanding harus membeli beras dari Kabupaten Paser. “Di sinilah pentingnya mengapa Gubernur Awang Faroek begitu bersemangat melakukan pembangunan infrastruktur. "Jika semua daerah terhubung dengan fasilitas jalan yang baik, tentu akan lebih ekonomis jika para pengusaha membeli beras dari produksilokal,”ujarnya. Sedangkan untuk mengantisipasi tingkat kebutuhan beras yang akan terus meningkat sementara lahan persawahan yang perlahan berkurang karena berbagai perubahan fungsi, Mukhransyah mengatakan pemerintah terus menggaungkan sosialisasi penganekaragaman pangan, sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada beras. “Kami juga mewacanakan agar masyarakat mempertimbangkan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai cadangan pangan masyarakat,” tandas Mukhransyah.mar
|