Dipertanyakan Kebun Sawit dan HTI Diperbatasan Kaltim2011-01-21 03:52:32
NUNUKAN, Janji menyegarkan masyarakat perbatasan Kalimantan Timur (Kaltim) – Serawak, Malaysia Timur terkait rencana pembangunan perkebunan sawit terbesar dan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk mengantisipasi berbagai permasalahan di perbatasan termasuk menampung Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia untuk bekerja dikebun sawit Indoensia disepanjang perbatasan sampai saat ini belum terwujud. Masyarakat yang hidup disepanjang perbatasan Kalimantan Timur (Kaltim) – Serawak, Malaysia Timur seperti Desa Long Layu, Desa Tanjung Karya dan Desa Long Bawang meminta agar apa yang dijanjikan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Awang Faroek Ishack soal rencana mengembangkan kawasan perbatasan (daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur) untuk dijadikan sebagai sabuk hijau (green belt) benar-benar diwujudkan. Green Belt dimaksud yakni kawasan perbatasan itu akan dikembangkan menjadi perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI), konsep ini sudah dilemparkan kepada masyaraklat khususnya yang bermukim di sepanjang perbatasan dan sudah diekspose sehingga perlu diwujudkan. Demikian dikatakan Koordinator Wilayah (Korwil) IV Perintis Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PPKRI) Kalimantan, H. Andi Agoes, SH, ketika memaparkan beberapa tuntutan masyarakat Nunukan khusus yang ada disepanjang perbatasan agar apa yang sudah dijanjikan pemerintah provinsi Kaltim dalam hal ini disampaikan Gubernur benar-benar harus diwujudkan disamping pembangunan infrastruktur lainnya. ‘’Masyarakat senang dengan jajin-janji pemerintah untuk pengembangan wilayah perbatasan tapi itu harus diwujudkan karena perencanaan itu yang ditunggu dengan harapan perbatasan Kaltim-Serawak Malaysia Timur akan tumbuh titik-titik ekonomi kerakyatan yang jelas kendati belum langsung membawakan hasil,’’ kutip Andi Agoes, Kamis (20/1) kemarin. Andi Agoes, berjanji akan menyampaikan langsung kepada Gubernur Kaltim apa yang diinginkan oleh warga masyarakat Indoensia yang ada dan bermukim di sepanjang perbatasan khusus yang masuk kabupaten Nunukan, karena langsung berbincang dengan warga disana. ‘’Ada harapan yang ditunggu-tunggu warga Long Bawang, Long Layu. Desa Tanjung Karya sjanji aka nada perkebunan dan HTI karena dengan hadirnya proyek itu maka akan memanfaatkan masyarakat yang ada didesa-desa itu, asalkan janji itu benar-benar diwujudkan,’’ terang Andi Agoes. Seperti diketahui Awang Faroek Ishak, sudah pernah menjanjikan adanya langkah strategis untuk mempercepat pembangunan kawasan perbatasan, mengingat arti strategis wilayah yang bersebelahan langsung dengan Malaysia itu sebagai beranda negara. Tiga Desa di Kecamatan Lumbis Desa Samalat, Desa Sibalu dan Desa Tatalunjuk meminta agar apa yang direncanakan pemerintah provinsi harus dibuktikan kalau ingin masyarakat yang selama ini terisolir bisa berkembang menjadi desa maju, namun untuk mewujudkan Desa Maju itu perlu dukungan berbagai pembangunan terutama infrastruktur seperti jalan, listrik dan air termasuk pendidikan. Menurut Awang Faroek, mengingat kawasan yang dibangun begitu luas memiliki panjang perbatasan 1.034 Km sehingga perlu dukungan semua pihak baik pemerintah pusat maupun daerah. Bahkan apabila kawasan perbatasan bisa dikembangkan menjadi sabuk hijau, yakni terbangunnya perkebunan skala luas serta HTI akan mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja khusus dari desa-desa sepanjang perbatasan, mengingat sektor perkebunan dan perhutanan menyerap banyak tenaga kerja. Pembangunan di kawasan perbatasan memiliki arti strategis terutama menghapus berbagai kerawananan di daerah itu yang sempat disebut sebagai daerah tak bertuan karena maraknya pembalakan liar, penyelundupan dan pencurian ikan, olehnya dengan rencana membangun perkebunan berskala luas dan HTI bisa menarik tenaga kerja gelap yang kini ada di Malaysia kembali ke Indonesia. ‘’Apabila terdapat sejumlah perusahaan perkebunan dan HTI di wilayah Indonesia, sudah tentu bisa mengurangi minat pekerja Indonesia untuk bekerja ke Malaysia, apalagi kalau gaji yang diberikan sama dengan yang mereka peroleh dari negeri jiran atau Malaysia,’’ jelas Awang Faroek.max
|