Komoditi Coklat Jamin Tarap Ekonomi Warga2011-01-24 04:19:26
Pengembangan tekhnologi pertanian di Berau guna menciptakan peningkatan taraf ekonomi masyarakat pelaku pertanian terus bertambah. Baik program pemerintah maupun partisipasi swasta semakin menjadikan petani Berau kian mapan dengan pengetahuan baru saat meneglola lahannya. Petani Coklat atau Cocoa atau masyarakata setempat biasa menyebut kakao, merupakan komodita yang cukup memberikan jaminan kesejahteraan jika diterapkan dengan tekun serta sekali lagi dengan tekhnologi pertanian. Salah satu Kampung yang menjadi contoh keberhasilan petani kakao telah menunjukan keberhasilan termasuk dari individu warga yang menjadi dampingan. Satu contoh kecil keberhasilan petani kakao di kampung Tumbit Melayu, Hafsah (40) merupakan pendatang yang mencoba peruntungannya di Berau. Menjadi petani kakao, tidaklah pernah terbayangkan sebelumnya, namun baginya komodita ini sudah memberikan hasil yang mencukupi kebutuhannya. Hafsah, yang mulai menggunakan metode sambung samping baru ini sejak 2005 mulai merasakan hasilnya. Produksi tahunan coklatnya meningkat drastis dari 350 kilogram menjadi lebih dari lima kali lipatnya, atau 2.5 ton per hektar. Dengan harga yang berlaku sekarang Rp 16.000.- per kilogram, dia bisa mendapatkan sekira Rp 35 juta per tahun, enam kali lebih banyak dari penghasilannya saat masih menggunakan metode lama. Hasil ini pula yang menjadi jembatan dirinya menunaikan ibadah haji 2009 lalu. Kalau menggunakan teknik lama, para petani biasanya menanam bibit coklat baru untuk menggantikan pohon coklat yang sudah tua. Mereka harus menunggu tiga tahun sebelum akhirnya pohon coklat itu mulai menghasilkan buah. Namun, dengan metode yang baru, prosesnya bisa dipercepat; hanya satu tahun waktu yang dibutuhkan untuk pohon coklat itu mulai berproduksi. Dengan mengambil cabang cangkokan dari pohon coklat yang berkualitas bagus, produksi coklat bisa meningkat dua bahkan tiga kali lipat. Dia menjelaskan, dalam kurun waktu 12 minggu, hasil cangkokan pohon coklat muda tersebut kemudian menjadi sebuah cabang baru; dan dalam satu tahun, cabang baru tersebut mulai memproduksi buah coklat. Ketika cabang hasil cangkokan itu telah dewasa, cabang utama dipotong supaya cabang cangkokan yang baru bisa tumbuh. Dengan cara ini, pohon coklat yang tua mendapatkan kehidupan yang baru. Tekhnologi ini mulai dikembangkan dibeberapa desa Dampingan PT Berau Coal (BC) khususnya yang memberdayakan komodita kakao. “Ada 8 kampung, binaan kita yang mengembangkan tanaman coklat yakni Tumbit Dayak,Tumbit Melayu,Meraang, Mascing,Long Lanuk,Siduung,Inaran Bena Baru, dan kampung Suaran,sasaran utama kita bagaimana bisa jadi pembelajaran bagi pelaku pertanian itu,” ungkap Tony Comdev Officer PT BC. Dalam tahap awal melalui demo plot (Demplot) dilakukan untuk desain project Revitalisasi lahan,hingga pada tahap pendampingan kelompok yang ada. Karena banyak kelompok terdapat dalam kampung maupun desa dampingan. “Mulai tekhnik sambung samping, pemupukan hingga pada proses akhir kakao, saat ini untuk demplot, evaluasi tingkat keberhasilannya mencapai 70 persen dan kita harap terus meningkat,” sambung Tony. Pengembangan pengetahuan dan yang berkaitan dengan komodita ini diseriusi guna pencapaian hasil maksimal bahkan bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan kakao Indonesia yang berada di Jember. Tingkat keberhasilan akan terus terpantau melalui evaluasi rutin dilapangan, dan seorang Hafsah bisa menjadi satu contoh kecil keberhasilan pengembangan tanaman Coklat di Berau belum petani-petani coklat di 7 kampung lainnya. Sektor pertanian di Berau digadang menjadi satu sector kunci masa depan jika sewaktu-waktu sumber daya alam seperti batu bara Berau habis. as
|