Bupati Terharu Saksikan Operet Merah Putih2011-01-29 02:21:31
TENGGARONG, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari usai mengikuti upacara parade merah putih yang kemudian dilanjutkan dengan aksi teatrikal atau pertunjukan Operet Perjuangan Merah Putih dalam merebut Kota Minyak yang saat itu dikuasai oleh penjajah. Dalam pertunjukan tersebut Rita Widyasari sempat meneteskan air matanya terharu melihat aksi yang diperankan para siswa-siswi Sanga-sanga dalam perebutan ladang minyak dan gas yang berada di Sangasanga yang menjadi target penjajah, sementara rakyat sangasanga dibiarkan dalam kesengsaraan. "Saat saya menyaksikan operet perjuangan memperebutkan ladang minyak yang dipertunjukkan, air mata saya bercucuran, sungguh seperti kejadian saat itu. Saya rasakan betapa beratnya menjadi pejuang dikala itu," Kata Rita Widyasari saat Ramah Tamah ramah tamah dengan eksponen pejuang merah putih sangasanga / madya LVRI Kaltim di Gedung Wisma Pertamina Sanga-sanga (27/1). Dikatakan Rita, kita patut bersyukur dan memberikan penghormatan sebagai wujud terimakasih kita kepada para pejuang kita 64 tahun yang lalu. "Tanpa mereka Sanga-sanga tidak akan seperti saat ini," ujarnya. Sementara itu dari peristiwa aksi perang-perangan dengan atribut bendera dua negara dikisahkan dalam operet merah putih dimana salah satu bait syairnya menggambarkan perjuangan merebut ladang minyak dimana rakyat Sangasanga terus berjuang melawan penjajah Belanda. Tidak lama kemudian datanglah tentara Jepang yang memnguasai Sangasanga, dan akhirnya terjadilah pertempuran yang sangat hebat antara pejuang merah putih melawan tentara Jepang. Dengan keberanian dan kekompakan rakyat sangasanga akhirnya berhasil menumpas penjajah dan merebut kemerdekaan 26 Januari 1947. Berikut salah satu bait syair perjuangannya. Hari itu 26 Januari 1947 adalah hari yang paling kelabu bagi perlawanan kaum pejuang Sangasanga. Seorang laki-laki yang juga pejuang menjadi timbal dari kemerdekaan. Dengan ikhlas hati melaksanakan perjuangannya demi anak cucu terlebih untuk negara dan bangsanya. Tapi tugas sucinya belum selesai, Tuhan telah memanggilnya karena lubang-lubang dari tangan sesamanya menembus dadanya. Tubuh tak kuat, nyawapun terserabut dari raganya. Ia terhempas mendekap bumi yang dicintainya, darah yang merah membanjiri tanah yang ia perjuangkan. Distrik VII adalah saksi bisu 64 tahun silam, laki-laki hebat itu adalah Sucipto pahlawan itu pun pergi menghadap sang penciptanya.(adv) =
|
Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

S E L A S A
New User Login
Video News
To watch this video, you need the latest
Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...
Iklan...
Baca Edisi Sebelumnya
Pasang iklan anda disini...