Kelompok Tani Rumput Laut Teritip Kecewa Bantuan tak bisa digunakan maksimal
2011-01-29 21:57:30
BALIKPAPAN, Kelompok Sumber Tani dan Nelayan Kelurahan Teritip Balikpapan Timur (Baltim), mengeluhkan bantuan satu set perlengkapan pembudidayaan rumput laut dari Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPKP) Balikpapan, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pasalnya bantuan itu sendiri sudah tidak bisa digunakan karena alat tidak kuat. "Perlengkapan yang diterima kelompok tani tersebut, tidak semua dapat dimanfaatkan, karena sebagian bantuan dinilai tidak layak untuk digunakan dalam pembudidayaan rumput laut di Teritip seperti jangkar pemberat sama pelampungnya tidak bisa digunakan. Karena tidak kuat, memang sebelum pemberian bantuan itu tidak ada orang dinas yang melakukan peninjauan, melihat kondisi perairan di sini," kata Ketua Kelompok Tani dan Nelayan ‘Sumber’ , Firmarifat Aladian, di kediamannya belum lama ini. Dijelaskannya, satu set perlengkapan budidaya rumput laut yang didapatkanya, terdiri dari, tali, bibit rumput laut, jangkar beton, pelampung kecil dan besar, tali rafia, life jacket, perahu ketinting beserta mesinnya, karung plastik, pisau stainles, timbangan, keranjang dan terpal untuk mendukung pembudidayaan rumput laut. "Kalau pemberatnya itu, pemberat beton, tidak cocok, karena kalau ombak besar, bisa hanyut, kalau pelampungnya tidak kuat bias terbawa arus. Pernah kita pakai pelampung seperti itu, cuma satu bulan, sudah bocor, karena ngak kuat kena sinar matahari dan air laut," terang salah satu anggota dari Kelompok Tani dan Nelayan, Sain. Dijelaskannya, pihaknya selama ini hanya menggunkan kayu ulin sebagai pondasi untuk membentangkan rumput laut, yang ditancapkannya ke laut, sehingga ombak besar tidak akan merusak posisi bentangan rumput laut, sedangkan untuk pelampung, pihaknya hanya menggunakan botol-botol air mineral ukuran 2 liter, yang dianggap mampu bertahan lebih baik dibandingkan menggunakan pelampung yang diberikan DPKP. ‘’Kalau pakai tiang pancang, tidak bakalan lari, biar ombak besar, masalahnya kalau lari-lari, rumput lautnya bisa putus, dan kita bisa gagal panen, kalau botol Aqua (biasa untuk air mineral, red) itu bisa tahan sampai 3-5 bulan, jadi bisa lebih kuat dan lebih murah dari pada pakai pelampung,’’ terangnya. Kembali Firmarifat mengungkapkan, pihaknya sangat beryukur dapat diberikan bantuan alat pembudidayaan, hanya sedikit menyayangkan, bantuan yang diberikan, tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan, masalahnya ada bantuan yang ternyata tidak bisa digunakan. "Kalau sebelum diberikan bantuan ada yang meninjau dan memberikan pembinaan serta pelatihan, mungkin dana untuk beli pemberat dan pelampungnya bisa dialihkan ke yang lain yang lebih bermanfaat," ujarnya. Sementara itu, Kasi Produksi Bidang Kelautan dan Perikanan DPKP Balikpapan, Tony Riyadi, membenarkan adanya bantuan satu set kelengkapan pembudidayaan rumput laut kepada Kelompok Sumber Tani dan Nelayan Teritip, dia mengatakan penyaluran bantuan tersebut, dilakukan oleh pihak ketiga, yakni CV Barometer Indonesia yang berkantor di Jl Taman Tulip Blok E6 No 16 Balikpapan Baru. ‘’Memang ada bantuannya, tetapi kalau masalah ada yang tidak sesuai sehingga tidak bisa dimanfaatkan, saya tidak bisa memberikan komentar, karena saya bukan PPTK-nya (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, Red),” terang Tony di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Ia juga menolak menjawab berapa sebenarnya anggaran pengadaan bantuan tersebut, serta anggaran yang dikucurkan dari APBN untuk memberikan bantuan kepada kelompok tani tersebut. "Kebetulan PPTK-nya lagi keluar, jadi saya tidak berhak untuk memberikan keterangan terkait anggarannya. Yang jelas, target dari pemberian bantuan ini, di tahun 2015 nanti, produksi kelautan dan perikanan Indonesia, bisa menembus dan menjadi yang terbesar dalam pasar kelautan dan perikanan di dunia," jelasnya.max
|