Pelaku Pembunuhan di Toko Apolo Belum Terungkap2011-02-01 04:22:11
TANJUNG REDEB, Sat Reskrim Polres Berau masih mengusut kasus pembunuhan di toko emas Apolo nomor 668 jalan AKB Sanipah,Tanjung Redeb, yang terjadi Rabu (2/2) dinihari. Masih dicari motif pembunuhan dan pelaku oleh polisi mengingat indikasi perampokan gugur seiring tidak ditemukannya barang yang hilang dari diri korban maupun sejumlah emas yang ada di toko tersebut. Korban Nasrullah (25) ditemukan tewas bersimbah darah dengan banyak luka di leher dan punggung. Polisi juga tidak menemukan adanya tanda-tanda pelaku berasal dari luar bangunan. Kabid Humas Polres Berau AKP Marwoto kepada media ini mengatakan, proses lidik masih berlanjut untuk menemukan titik terang dari kasus tersebut. “Kita masih memeriksa saksi-saksi yang juga berada dalam rumah itu, ada 3 orang lain dalam rumah selain korban. Sampai kini masih kita lidik untuk mencari fakta-fakta yang bisa mengarah kepada tersangka, bukan meminta pengakuan tapi mengarahkan fakta pada pelaku,” tegas Marwoto. Warga sekitar AKB Sanipah geger setelah berhembus kabar terjadi pembunuhan di toko emas Apolo, yang semula disangka aksi perampokan. Dari keterangan Marwoto penemuan korban sekira pukul 02.00 dinihari. Ditemui media ini di Mapolres, salah seorang family korban menyebutkan pada malam kejadian ada saksi masih sempat melihat korban makan nasi goreng sekira pukul 12 malam. Salah seorang kerabat korban ditelpon oleh salah satu penghuni rumah yang curiga melihat ada noda darah dari atas plafon,setelah yang ditelpon datang, kemudian bersama-sama melihat korban dikamar yang sudah bersimbah darah, saat ditemukan kaki korban sudah dingin, korban tidur sendirian dikamar belakang diatas loteng, yang satu diruang tengah depan TV dan yang 2 orang adalah pasangan suami isteri berada dalam kamar. Berdasarkan olah TKP oleh polisi yang menyebutkan tidak banyak ceceran darah ditemukan disekitar TKPlayaknya perkelahian, besar kemungkinan korban sedang tidur saat ditikam. Terdapat 4 tusukan dileher, 3 dipunggung dan satu ditelapak tangan. “Kalau dilihat seperti itu indikasinya, tapi kami masih terus mencari tahu detail kronologis kejadian dari hasil olah TKP,” jelas Marwoto lagi. Apakah korban benar-benar tidur pulas saat dieksekusi atau sebelumnya diberi sesuatu yang membuat korban tertidur, Marwoto menyebutkan akan diketahui melalui hasil autopsi. Dari keterangan polisi, indikasi pembunahan bisa berlatar belakang dendam atau sakit hati. Sebab harta korban dalam kamar seperti laptop dan barang berharga lainnya tidak satupun yang hilang, demikian pula dengan emas yang ada didalam toko itu. Selain itu, dari keterangan polisi bahwa luka di leher dan punggung yang berbeda diameternya bisa jadi korban ditikam 2 senjata tajam yang berbeda atau 2 pelaku. Terlebih melihat tidak ada tanda-tanda pelaku berasal dari luar seperti pintu atau jendela yang dirusak, indikasi pelaku mengarah pada penghuni rumah lainnya. Meski dikatakan salah seorang family korban, bahwa semua yang berada dalam rumah itu memiliki hubungan keluarga dengan pemilik toko, juga antar sesama penghuni. “Kita tunggu saja penyelidikan akhir,” tandas Marwoto. as
|