Pengusaha Harapkan Bantuan Tempat Penampungan IkanKerupuk Ikan dan Singkong Khas Talisayan
2011-02-01 04:26:57
KALAU berwisata ke daerah Kecamatan Talisayan, rasanya kurang lengkap kalau tidak membawa oleh – oleh kerupuk ikan dan kerupuk singkong. Karena kerupuk ini, selain mempunyai cita rasa yang khas, harganya pun murah meriah, tinggal pilih rasa singgkong atau rasa ikan, cukup Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu per bungkus, konsumen bisa membawanya pulang. Meski di luar daerah Talisayan ada yang menyajikan kerupuk ikan atau kerupuk singkong di luar daerah Talisayan, tetapi tentunya rasanya jauh berbeda dengan kerupuk hasil olahan Ny Endang. Melalui pengalamannya dari pulau Jawa, kerupuk buatannya banyak diminati masyarakat sekitar dan wisatawan yang berkunjung ke Talisayan. Menurut pengakuan sejumlah konsumen, yang boleh dibilang sebagai pelangggan tetap, kerupuk hasil keterampilan tangan Ibu Endang ini memang punya rasa khas tersendiri, dari jenis kerupuk lainnya. Selain gurih, rasanya pun mengundang selera penikmat kerupuk Karenanya kurupuk olahan Ibu Endang ini menjadi salah satu khas buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah pesisir ini. Selain menjadi buah tangan wisatawan yang datang, kerupuk ini juga dia jual ke luar daerah, salah satunya di Kota Tarakan. Pemasaran di Kota Tarakan cukup lumayan, karena kerupuk hasulo olahan tangannya itu sudah dikenal di kota pengahasil migas itu. “ Ya lumayan banyak lah, beda – beda tipis dengan pemasaran di Berau sendiri,” katanya. Yang jelas, dalam satu bulan ia bisa menghabiskan ikan satu ton setengah, untuk campuran membuat kerupuk, sedangakan bumbu yang ia gunakan sebagai penyedap rasa tetap mengunakan bahan alami, yakni palawija yang mudah didapatkan di pasaran. Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah, ia belum memiliki tempat penampung ikan. Sehingga kerap kali nelayan yang datang menawarkan dengan jumlah besar ia tolak. “Makanya saya ngak berani ambil resiko, dari pada busuk lebih baik saya tolak. Kalau ada alat penampung ikan, biar dengan jumlah yang besar kami berani membelinya,” ujarnya. Berbeda dengan singkong, sekalipun tak ada tempat penampungan, singkong ini tak mengundang resiko busuk. Karena singkong ini mampu bertahan lama, meski tanpa diawetkan. Oleh sebab itu ia berharap ada campur tangan Pemkab Berau, untk memberikan bantuan modal kepadanya. Agar dia bisa mengembangkan usahanyanya, khususnya membeli tempat penampungan ikan. (Roziz)
|