Jangan Mendirikan Bangunan di Sepanjang Pantai2011-02-04 13:04:46
SEBAGAI puncak acara sekaligus mengakhiri kunjungn ke lima kecamatan daerah pesisir, Bupati meresmikan Pendopo Talisayan, tepatnya di pinggir pantai Talisayan. Selain itu Bupati juga membuka agenda tahunan, yakni perayaan budaya bahari tolak bala atau buang naas 1432 H. Sebelum prosesi ritual membuang naas itu dimulai, Bupati berpesan kepada warga Talisayan, agar berpartisipasi memelihara fasilitas pendopo tersebut. Pasalnya, pendopo itu milik bersama dan bisa digunakan berbagai acara, khususnya acara kemasyarakatan. Untuk itu Bupati juga meminta kepada masyarakat, jangan sampai ada yang mendirikan bangunan di sepanjang pantai, karena mengurangi keindahan pantai, agar menjadi lautan lepas. Menurut rencana, Pemkab Berau juga akan membangun kantor camat bersebelahan dengan pendopo yang baru diresmikan itu, agar pada saat ada kegiatan menampung orang banyak, pendopo itu dapat dimanfaatkan. “Daerah pantai ini patut dijual, dengan suguhan kawasan wisata yang mampu menarik perhatian semua mata wisatawan, baik wisatawan lokal maupun luar,” kata Bupati. Mengingat pantai Talisayan ini masih terlihat alami, belum pernah ternodai, sehingga layak dijadikan kawasan objek wisata, sebagai tempat menghabiskan hari libur bersama keluarga, dengan harapan Talisayan ini menjadi daerah andalan. Tetapi dengan catatan, warga juga turut peduli dengan hutan mangrove, dan kehidupan laut lainnya, khususnya populasi yang ada dibawah laut. Seperti terumbu karang, ikan dan makhluk hidup di bawah laut lainnya. Jika ada yang melakukan penebangan hutan mangrove, dengan dalih apa pun warga harus berani bertindak, memberi terguran secara lisan. Jika masih tetap melanggar, kegiatan itu dapat dilaporkan ke petugas yang berkompeten dengan masalah itu, karena kegiatan merupakan pengerusakan cagar alam. Begitu juga dengan terumbu karang, dan habitat yang ada d bawah laut, yang dilindungi oleh undang – undang, seyogianya melaporkan ke pihak yang berwajib, agar diambil langkah tegas. “ Salah satunya mencari ikan dengan menggunakan bom, ini jelas merusak alam dibawah laut,” tegasnya. Untuk itu Dinas Kehutanan dan Dinas Kelautan diharapkan menggalakkan penanaman hutan mangruf, agar cagar alam sepanjang pantai dan di pulau – pulau kecil tetap terlindungi. “Talisayan harus terus berbenah, jangan asal jadi ibu kota Kabupaten pesisir, agar masyarakatnya tidak sengsara. Air, listrik dan akses antar Kecamatan harus menjadi prioritas. Karena saya mendukung seratus persen pemekaran Kabupaten pesisir selatan,” tegasnya. Terkait perayaan budaya bahari tolak bala atau buang naas itu, Bupati meminta acara seperti ini dapat dilestarikan, karena acara seperti ini bagian dari merupakan proses dinamis, penciptaan, penertiban dan pengelolaan nilai – nilai insani, serta acara ini menjadi nilai ekonomis. “Saya harapkan kita semua dijauhkan dari segala macam musibah atau bencana alam, seperti daerah – daerah lain. Mulai dari tsunami, banjir, hingga gunung melatus,” ungkapnya. Kepada masyarakat agar menjaga kebersamaan sesama makhluq hudup, baik dengan sesama maupun dengan makhluq hidup lainnya, agar Allah SWT tidak marah kepada warga Berau. Oleh sebab itu Bupati berjanji acara ini akan diagendakan setiap tahunnya, agar budaya ini terus dapat dilestarikan secara turun menurun, sekaligus sebagai simbol suatu daerah pesisir, mempunyai adat dan budaya yang belum tentu dimiliki oleh daerah lain. Akhir perjalanan Bupati dan Wabup ke lima kecamatan pesisir selama tiga hari dua malam kemarin, menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin yang selalu ingin dekat dengan warganya. (Wanda Nunung Fahrorroziz)
|