Penanganan Anjal Terkesan Stagnan2011-06-25 00:33:42
SAMARINDA,Fenomena merebaknya anak jalanan (anjal), seperti di Samarinda merupakan persoalan sosial yang kompleks. Sebenarnya hidup menjadi anak jalanan memang bukan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi bermasa depan yang tidak jelas. Semakin meningkatnya jumlah anjal merupakan fenomena nyata yang harus segera ditingkatkan penanganannya secara lebih baik.Jika permasalahan ini tidak segera ditangani maka dikawathirkan menimbulkan masalah baru. Keberadaan mereka tidak jarang menjadi masalah, bagi pihak keluarga, masyarakat dan ngara. Namun perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar. "Padahal mereka saudara kita sekaligus amanah Allah yang harus dilindungi,dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan crah," kata Ketua Pokja Pelayanan dan Fasilitasi Pengaduan KPID Kaltim, Dwi Haryono dalam seminar Penanganan Anak Jalanan, Jumat lalu di Gedung Dewan Pendidikan Samarinda. Menurutnya, untuk melihat keberadaan anak jalanan di kota Samarinda tidak sulit. Mereka melakukan aktivitas dan tersebar ditempat-tempat keramaian. Biasanya mereka memilih Simpang jalan yang ada lampu lalulintasnya, yang merupakan sasaran operasi dan mobilitas mereka cukup tinggi. "Mobilitas yang tinggi merupakan salah satu karakter yang menjadi kendala untuk menangani anak jalanan secara efektif disamping karakter dan faktor lain yang cukup menentukan juga,"jelasnya. Sehingga lanjut Dwi, mobilitas tinggi inilah yang mengakibatkan sulitnya mendata mereka apalagi menanganinya, sehingga tidak mengherankan bila penanganan anak jalanan terkesan berjalan ditempat. Memang sudah ada penanganan dengan berbagai bentuk melalui Community based sampai street baseed. Namun jumlah anak jalanan sepertinya tidak pernah berkurang bahkan cenderung meningkat jumlahnya. Kegiatan-pun bermacam-macam mulai berjualan koran, mengamen,menjadi pedagang asongan hingga peminta-peminta. Dalam menyelesaikan persoalan anak jalanan, harus mengabungkan dua pendekatan, yakni melihat individu anak jalanan sebagaian sumber masalah dan melihat sistem kehidupan sosial sebagai sumber masalah.Artinya, satu sisi kita melihat bahwa anak jalanan merupakan korban akibat kekeliruan atau ketidaktepatan pemilihan model pembangunan di Kaltim, disamping anjal mempunyai potensi berperilaku patologis dan menganggu keindahan ,ketertiban kota.Oleh karena itu perlu adanya agenda bersama antara pemerintah,LSM,Yayasan anak dan KPAID.Untuk melakukan program intervensi pengurangan anak dijalanan yang dilakukan didasari oleh hati nurani dan sikap empati agar anjal tidak lagi mewariskan kemiskinan atau kerjaan jalanan baru kedepannya.john
|