Pemkab PPU Harus Sikapi Alkes Mangkrak 2011-02-15 22:46:46
PENAJAM, Anggota Komisi II DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Anwar Sanusi menyayangkan terbengkalainya alat kesehatan (alkes) di beberapa puskesmas, menurut dia hal ini harus menjadi perhatian yang serius terutama instansi terkait dalam hal ini Dinas Kesehatan. Menurutnya, seharusnya alat itu dimanfaatkan dengan baik, apalagi, kabupaten ini masih harus meningkatkan pelayanan di bidang kesehatan namun mengapa sampai ada alat kesehatan yang tidak difungsikan, apakah tenaga manusianya tidak ada atau karena Dinas Kesehatan memang sama sekali tidak bisa memfungsikan alat-alat itu, ini kan sangat mengherankan disatu sisi kita kekurangan peralatan medis bagi peningkatan kesehatan namun disisi lain justru ada alat kesehatan tidak difungsikan. Anwar menegaskan, masalah ini terletak di perencanaan awal, kalau dalam perencanaan pengadaan barang berupa alat kesehatan benar diajukan pasti alat itu tidak nongkrong begitu saja tapi kemungkinan alat-alat kesehatan itu memang tidak diusulkan sehingga begitu barang itu ada kita tidak mampu mengoperasikan. Di rencana kerja anggaran (RKA) seharusnya sudah disebutkan alat apa saja yang dibutuhkan oleh puskesmas, kalau sampai terbengkalai begini kan saying namun Dinas Kesehatan (Dinkes) harus turun tangan mencari solusi. ‘’Ya, ini sangat disayangkan sekali, kami pernah check ke beberapa puskesmas dan ternyata memang ada alat yang mangkrak tak pernah digunakan, ini kan aneh bagaimana pengadaan barang itu sebelumnya padahal alat-alat ini dibeli dengan harga cukup mahal, siapa yang harus bertanggung jawab,’’ ujarnya. Ia menuturkan, peran Dinkes sangat diharapkan, instansi ini harus mencarikan solusi, alat tersebut hendak diapakan apakah nanti alatnya dipindahkan ke Rumah Sakit Daerah Penajam atau bagaimana, pokoknya diserahkan ke Dinas Kesehatan. Masih menurut Anwar Sanusi, di kecamatan lain banyak puskesmas yang masih membutuhkan alat, kalau memang alat tersebut tak bisa digunakan di puskesmas yang satu silahkan diserahkan ke puskesmas lain atau mungkin masalahnya tidak ada tenaga yang mengoperasikan alatnya itu. Kalau kendalanya karena belum memiliki tenaga yang dapat mengoperasikan alat itu, harusnya sebelum alat-alat itu dating sudah dipersiapkan siapa operator yang akan mengoperasikan alat itu tentunya harus melalui pelatihan dulu, kalau tenaga operatornya sudah ada kami yakin alat itu tidak akan mangkrak seperti yang ada sekarang. Untuk diketahui, alat kesehatan berupa Fully Automatic Biochemistry Analizer (FABA), atau dalam bahasa awamnya disebut alat pemeriksa darah kimia dan incubator yang berada di Puskesmas Petung belum bisa digunakan dengan maksimal namun apa yang menjadi penyebab, itu yang tidak diketahui. ‘’Kami memang mendapatkan bantuan alat kesehatan hanya saja yang menjadi kendala karena ada beberapa peralatan canggih tidak ada tenaga yang bisa mengoperasikan, ini kendala paling mendasar,’’ kata Kepala Puskesmas Petung Masdiansyah. Masdiansyah menuturkan, alat-alat itu ditempatkan di puskesmas-puskesmas termasuk di Puskesmas Petung ini untuk mewujudkan target Dinkes yang menginginkan beberapa puskesmas naik status menjadi puskesmas satellite, hanya saja kendala yang dialami karena tidak ada tenaga yang dapat mengoperasiukan alat itu. Dengan status itu, puskesmas satelite bisa melayani pasien sebelum dirujuk ke rumah sakit yang lebih representative, tapi, jika melihat keberadaannya yang hampir tak terpakai, sangat disayangkan, karena jika dibiarkan terus menerus akan mengalami karat atau bahkan kerusakan yang lebih fatal kemudian alat itu tidak bisa digunakan sama sekali. Akibat kurangnya tenaga teknis yang menguasai pemanfaatan Alkes tersebut, beberapa Puskesmas memilih tak membuka kardus beberapa alat bantuan yang sudah diterima, Masdiansyah mengakui, pihaknya sampai saat ini belum pernah menggunakan alat kesehatan itu karena tidak ada operator yang menguasai alat-alat dimaksud. max
|