Pemkab Cari Orang yang Mampu Kelola Rumah SakitBupati: PNS atau Swasta Tak Masalah
2011-02-21 00:50:02
TANJUNG REDEB, Karena banyaknya keluhan masyarakat tentang pelayanan Rumah Sakit Umum Abdul Rivai (RSUDAR) Tanjung Redeb yang kurang maksimal, mendapat perhatian khusus dari Bupati Berau H Makmur HAPK. Secara tegas Bupati mengatakan, saat ini Pemkab Berau mencari seseorang yang dinilai mampu mengelola rumah sakit, tidak peduli dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun dari swasta. Penegasan Bupati ini, pendapat beberapa masyarakat kepada wartawan Poskota Kaltim tidak berlebihan, tetapi justru Bupati menunjukkan seorang pemimpin yang peduli terhadap masyarakat. Sebab, sampai saat ini pelayanan rumah sakit, mulai dari soal fasiltas maupan perilaku oknum pegawai rumah sakit yang memberikan pelayanan terhadap pasien maupun keluarga pasien masih kurang menyenangkan. Karena itulah Bupati tak segan – segan mengatakan, jika ingin pelayanan rumah sakit itu bisa maksimal, harus mencari seseorang yang mampu menangani masalah pelayanan di rumah sakit milik Pemkab Berau itu. “Sampai saat kami masih terus mencari seseorang yang cukup mampu mengelola manajemen rumah sakit itu dengan baik. Paling tidak mampu mengubah prilaku oknum yang selama ini dikeluhkan pasien,” uangkapnya. Bupati juga tak mempersoalkan yang bersangkutan itu dari kalangan PNS atau pun swasta, yang penting bagi Bupati pelayanan di rumah sakit dapat berubah jauh lebih baik. Menurut Bupati, jika yang bersangkutan dari kalangan swasta, Pemkab siap teken kontrak minimal satu tahun. Jika dinilai sanggup melakukan perubahan yang lebih baik, kontrak bisa diperpanjang. “ Itu tidak menjadi masalah, sepanjang yang bersangkutan mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, dan tidak ada lagi keluhaan – keluhan pasien maupun keluarga pasien, kami siap membayarnya,” tegas Bupati. Sementara itu secara terpisah Direktur RSUDAR Tanjung Redeb dr. Munir kepada Poskota Kaltim mengakui, sampai saat ini pelayanan rumah sakit yang dipimpinnya itu masih kurang, khususnya soal prilaku oknum bawahannya yang memberikan pelayanan kepada pasien maupun kepada keluarga pasien. “Kita akui itu memang ada, tetapi tidak semua pegawai disini berprilaku yang tidak menyenangkan. Sehingga pasien merasa kurang dihargai,” ucapnya. Begitu juga soal pelayanan, tidak semua pasien merasa tidak puas dengan pelayanan rumah sakit. Sebab, lain pasien lain pula permintaan dan cara penanganannya. Selain itu ia juga mengakui, bahwa mengubah prilaku seseorang itu bukan soal mudah, mengingat prilaku ini bagian dari pembawaan seseorang, karenanya dibutuhkan bimbingan moral bagi yang bersangkutan. Padahal, sejak ia menjabat menjadi direktur rumah sakit, Munir kerap kali menghimbau kepada bawahannya agar menerapkan S2R, yakni Senyum, Sapa dan Ramah kepada pasien maupun keluarga pasien. Sebab, pasien datang minta diobati, bukan disakiti. Tetapi imbauan itu sepertinya diabaikan oleh beberapa oknum pegawai rumah sakit. Untuk itu ia lebih setuju rumah sakit milik Pemkab Berau ini diubah menjadi Badan Pelayanan Umum (BLU), karena BLU yang mengelola bukan lagi bagian Pemkab sendiri, tetapi pihak swasta. “Kalau swasta yang menangani saya optimis pelayanan rumah sakit memuaskan. Karena kalau ada oknum yang tidak mengikuti aturannya bisa langsung dipecat,” tegasnya. Dengan begitu tidak ada bawahan yang berani melanggar aturan yang diterapkan seorang pimpinan. Pasalnya, manageman BLU ini berbeda dengan managemen pemerintah, karenanya tidak ada beban mengambil tindakan tegas. Imbuhnya. roz
|