DKP Akan Telusuri dan Evaluasi Bantuan2011-03-02 23:35:09
TANJUNG REDEB, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Berau, H Anwar menyatakan, pihaknya akan menelusuri beredarnya informasi, bahwa bantuan kapal tangkap anggaran 2010 lalu tidak tepat sasaran. Selain itu ia akan menelusuri dan mengevaluasi kembali, barang – barang bantuan yang diserahkan kepada para nelayan. “Kita akan menelusuri informasi itu, sejauh mana kebenarannya. Jika benar, ada pegawai DKP menerima bantuan, maka barang itu akan ditarik kembali dan diserahkan kepada yang layak menerimanya,” ungkapnya. Sebab tidak dibenarkan seorang pegawai DKP menerima bantuan itu, karena program bantuan itu khusus untuk para nelayan. Untuk itu, selain mengevaluasi DPK juga akan melakukan pembenahan dalam sistem penyeluran bantuan, agar tepat sasaran. Ia juga mengakui, bahwa hasil eveluasi sementara memang bantuan itu ada yang tidak jalan. Karenanya semua bantuan, perencanaan itu akan dicermati dan akan dilakukan pembenahan lagi, dimana sisi kelamahanya dan dimana kekurangannya, semua akan dipelajari. Termasuk informasi bagan hasil bantuan DKP yang tidak jalan, mesin kapal tangkap yang baru diserahkan rusak, dan kapalnya yang sebagian bocor. Namun yang perlu dicermati, kata Anwar, ada kondisi – kondisi yang terpaksa nelayan tidak melaut, seperti cuaca, musim gelombang dan kondisi alam lainnya. Sehingga masyarakat diharap jangan mudah menarik kesimpulan, bahwa apa yang sudah diberikan kepada nelayan itu tidak jalan. ”Nah, ini lah dilematisnya DKP memberikan bantuan kepada nelayan, karena cuaca tidak mendukung, dibilang bantuan itu tidak jalan, nelayan tidak mampu mengoperasikan lantaran kondisi ekonomi, juga dibilang tidak jalan," keluhnya. Selain itu ia juga menjelaskan, penyerahan bantuan itu harus memenuhi prosedur. Sebab tidak mungkin DKP asal memberikan bantuan, tanpa ada prosedur yang dipenuhi oleh pemohon. “Kan bantuan itu kita sesuaikan sejauh mana kemampuan nelayan. Tidak mungkin kan kalau kita bantu kapal yang gross tonase (GT) nya melebihi kemampuan ekonominya,” imbuhnya. Jika dipaksakan ia tidak yakin, apakah nelayan yang bersangkutan mampu mengoperasikannya, selainnya peralatannya lebih canggih, dana operasionalnya pun cukup besar. Oleh sebab itu mungkin lebih efektifnya, jika ada bantuan kapal yang GT nya mencapai 300 an, lebih efektifnya harus ada kolaborasi antara nelayan dengan pengusaha ikan, untuk dijadikan bapak asuh, dan hasil melautnya pun bisa bagi hasil, sesuai kesepakatan antara nelayan dan pengusaha ikan. roz
|