Sambut Nyepi Sucikan Diri dan Alam2011-02-02 03:52:10
SUASANA Pura Agung Giri Natha Jalan Bangun I Kecamatan Sambaliung , Jum’at (4/3) sore lalu, berdeda dari biasanya, suara – suara gamelan khas Bali sayu – sayu terdengar bagi sertiap waraga yang melintas di Pura itu. Alunan gamelan itu tak lain warga umat Hindu sedang melakukan Melasti, mensucikan diri, benda – benda pura dan mensucikan alam semesta, sebagai rangkaian upacara menyambut hari raya Nyepi. Dari luar pagar terlihat sejak pagi hari hiruk pikuk umat hindu, baik kaum pria maupun wanita sibuk menyiapkan prosesi Melasti. Berbagai jenis sesajen telah disiapkan. Sore harinya, sekitar pukul 15.35 Wita, dengan dipimpin Pemangku Pura, Mangku I Nyoman Kondra, umat Hindu memulai upacara Melasti. Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) Kabupaten Berau Ketut Nastra, SPd, biasanya prosesi Melasti ini digelar sebelum Nyepi pada hitungan ganjil. Seperti H-3, H-5 atau H-1 seperti yang dilaksanakan sekarang. Ketika hendak dilanjutkan pada upacara Mencaru untuk membersihkan Buana Agung, hujan deras mengguyur Berau sehingga upaca sempat harus dihentikan hingga hujan reda. Sekitar satu setengah jam kemudian, hujan mulai reda, dan Mencaru pun segera dilaksanakan. Menurut Kondra, menjelang Nyepi ini melakukan pensucian Buana Alit, yaitu diri sendiri sebagai bagian dari alam semesta dan Buana Agung, yaitu alam semesta itu sendiri. Prosesi Mencaru memakan waktu yang cukup lama. Doa dipanjatkan sesuai empat arah mata angin yang ditandai dengan semacam tonggak bambu yang diberi gantungan dari janur dan satu tonggak tepat di bagian tengah. Selesainya ditandai dengan Mengerupuk, dimana umat Hindu mengelilingi buana dengan memukul kentongan, menyapu dengan sapu lidi, dan membawa sesajen berkeliling. Selanjutnya, seluruh umat Hindu naik ke bagian utama pura. Dari lantai dasar untuk menuju bagian utama pura harus menaiki 74 anak tangga yang terbuat dari batu. Di sinilah, seluruh umat yang mengenakan pakaian adat lengkap dengan udeng atau ikat kepala bagi para pria dan kain yang dililit di bagian pinggang untuk kaum wanitanya duduk bersila menghadap Padma Sana. Dari pelataran tempat bersila, Padma Sana yang menjadi tempat pemujaan Tuhan masih ada beberapa undakan yang harus dilewati. Dalam keheningan tanpa iringan musik gamelan Bali, di antara bau dupa dan iringan musik, seluruh umat yang hadir kemarin mensucikan diri mereka untuk melaksanakan catur brata penyepian keesokan harinya, Sabtu (5/3) kemarin. Sehari semalam atau 24 jam. Mulai dari sebelum terbit fajar hingga sesudah terbit fajar Minggu (6/3) nanti. Ada empat pantangan yang harus dilakukan selama puasa Nyepi, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Pantangan – pantangan ini lah yang tidak boleh dilanggar oleh umat Hindu ketika menjalani Nyepi, semua berdiam diri didalam rumah, menghentikan semua kegiatan setahun sekali. (Wanda Nunung Fahrorroziz)
|