Bupati Lepas Tukik di Pulau Sangalaki2011-02-02 03:53:14
TANJUNG REDEB, Di Setiap kunjungan ke Pulau Sangalaki, Bupati Berau H Makmur HAPK selalu melakukan ‘ritual’ melepas tukik (anak penyu) di pulau yang juga habitat penyu hijau (chelomia mydas). Sejumlah 100 ekor tukik dilepas Bupati didampingi Wakil Ketua I DPRD Berau H Saga, Asisten I, Bachtiar Kelana, Asisten III Baharudin Hasim, adalah hasil penetasan alami yang baru saja digali dari tempat pertama penyu bertelur. Ditegaskan, dengan komitmen Pemkab Berau menjadikan Pulau Sangalaki sebagai pulau pelestarian Penyu dan dinyatakan full protect, perdagangan telur penyu yang dulu marak kini sudah dilarang. Meski masih sering terjadi pencurian, entah dengan cara atau melalui trik seperti apa, namun komitmen ini setidaknya menekan angka eksploitasi telur dari pulau-pulau penghasil telur di Berau. Tukik yang dilepas Bupati merupakan hasil pelestarian yag ditetaskan sendiri di pulau itu, baik secara alami ditempat bergelurnya penyu juga melalui tekhnologi penetasan, yakni Proses chetery yang sudah ada di pulau Diakui bupati, konsep peletarian penyu yang dilakukan selama ini, setelah Sangalaki dan Derawan dinyatakan full protect, berbeda dengan ketika dilibatkannya masyarakat, ikut berpartisipasi memelihara anak penyu dan melepas ke laut setelah berusia beberapa bulan. ”Saya tidak tahu, apakah yang dilepas ini bisa selamat jadi dewasa, terbebas dari incaran predator yang setiap saat mengancam,” kata Makmur. Sistem pelestarian yang dilakukan, menurut Bupati perlu dievaluasi tingkat keberhasilannya. Dengan konsep yang diterapkan saat ini, dibandingkan dengan konsep yang pernah dilakukan sebelumnya ketika masih melibatkan masyarakat, Bupati juga membandingkan dengan konsep pelestarian yang dilakukan di Bali. Tukik lebih dulu dikembangkan dalam penangkaran hingga cukup untuk bertahan di alam bebas baru dilepas. ”Kalau di Bali bisa, mengapa di Berau dilarang,” kata Makmur heran. Masih ditempat sama, pernyataan serupa juga disampaikan H Saga. “Tingkat keberhasilannya perlu dihitung, ada pembanding antara konsep yang sekarang dengan konsep melibatkan masyarakat seperti dulu,” ungkapnya. Sebab secara pribadi dirinya menilai, tingkat keberhasilan pengembagan alami jauh lebih rendah dibandingkan dengan sistem saat masih melibatkan masyarakat. Karena itu, ia berencana mengumpulkan semua stakeholder, untuk membicarakan hal tersebut. as
|