Sri Haryatmo : Sister School Harusnya Sudah Berstandar Internasional 2011-02-10 13:02:06
BALIKPAPAN,Sekolah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) diharapkan dapat mengangkat kualitas dan mutu pendidikan Indoensia sehingga bisa bersaing dengan sekolah-sekolah luar negeri yang selama ini dibanggakan karena memiliki keunggulan yang jauh lebih bagus dibandingkan sekolah-sekolah dalam negeri. "Ada sejumlah persyaratan sekolah RSBI di tanah air kita ini dan salah satu persyaratan yang harus dilakukan oleh sekolah yang sudah dipercaya menjadi RSBI adalah memiliki sekolah sahabat atau sister school di luar negeri, sehingga akan terjadi transformasi pendididikan baik antara siswa maupun guru termasuk manajemen. Ini rohnya RSBI," kata Kepala SMP Negeri 1 (RSBI) Balikpapan, Sri Haryatmo, ketika ditanya syarat pelimpahan wewenang RSBI dari Kota Balikpapan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, diruang kerjanya kemarin. Menurut Sri yang mantan Kepala SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 12 ini, untuk pelimpahan RSBI dari kota ke pemprov sudah saatnya, karena RSBI membutuhkan pembiayaan yang cukup besar baik untuk menunjang kompetensi guru yang minimal harus mengantongi ijazah S2, sarana dan prasaran penunjang harus benar-benar sesuai standar internasional, kualitas dan sistim pendidikan termasuk manajemen sekolah. Dikatakan, RSBI itu sekolah tingkat SMP yang sudah sekolah standar nasional (SSN) plus, sehingga sistim yang berlaku di SMP yang regular harus benar-benar beda dengan di SMP RSBI. Olehnya lulusan RSBI itu benar-benar sudah memiliki kemampuan intelektual yang semi internasional namun lebih tinggi darei SMP Reguler. "Jangan sampai hasil antara SMP Reguler dengan SMP RSBI sama, kalau ini terjadi maka lebih baik RSBI itu dikembalikan saja pada sistim regular," kata Sri Haryatmo. Menurut dia, syarat untuk SMP RSBI agar dilimpahkan ke Pemprov, harus dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan kota, tidak bisa sekolah yang RSBI mengusulkan sendiri ke pemprov namun mekanismenya Disdik kota membuat usulan pelimpahan penanganan RSBI dari kota ke pemprov, nantinya semua pembiayaan untuk pengembangan RSBI yang siap menjadi SBI benar-benarbersumber dari pemprov dan pemerintah pusat sedangkan pemkot hanya menunjang saja dengan harapan SMP RSBI bisa berkembang sesuai perencana menjadi sekolah setaraf internasional. ‘’Untuk bisa dilimpahkan ke Pemprov Disdik Kota Balikpapan cukup mengajukan minimal 3 – 4 syarat dari enam syarat yang ada. Kalau ini bisa dilakukan maka dipastikan SMP RSBI akan ditangani pemprov terutama masalah pembiayaan yang dibutuhkan sehingga akan memunculkan mutu pendidikan yang bertaraf internasional,’’ terang Sri. Hanya saja, kata Sri lagi, untuk Sister School atau sekolah saudara di luar negeri Kemendiknas tidak sembarang menentukan sekolah di Singapore atau di Australia yang menjadi sister school, tapi harus juga dilihat kualitas sekolah itu, apakah sudah dinyatakan sebagai sekolah standar internasional atau belum,. "Kan tidak semua sekolah diluar negeri sudah standar internasional," sambung Sri. Seperti diketahui, Kepala Dinas Pendidikan provinsi (Disdik) Kalimantan Timur, Musyahrim mengatakan RSBI di Kalimantan Timur menjadi perhatian serius Disdik dan pemerintah pusat, untuk itu peluang yang sudah diberikan hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga mutu pendidikan di Kaltim bisa lebih meningkat. Sebelumnya, Konsultan Direktorat Pembina SMP Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), DR Sapto Haryoko mengatakan untuk mengembangkan sekolah RSBI khusus untuk tingkat SMP merupakan peluang daerah untuk memajukan pendidikan, sebab dengan menjadikan SMP sebagai RSBi itu berarti sekolah ditantang untuk bisa bergerak maju lebih cepat dibandingkan dengan sekolah yang sama secara regular. ‘’Untuk mengembangkan satu sekolah menjadi lebih maju memang tidak lepas dari dana yang dibutuhkan, itupun diakui ketika RSBI mau muncul kepermukaan, kita ditantang untuk bisa menjadikan sekolah-sekolah ‘faforit’ itu mampu merangkul berbagai pihak untuk mendukung pendanaan dalam menunjang keberadaan berbagai kebutuhan termasuk fasilitas pendidikan dan teknologi informatika (TI),’’ kata Sapto. Dia mencontoh beberapa RSBI di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, sekolah-sekolah itu didukung dana dari perusahan-perusahan besar seperti Gudang Garam dan Bentul, untuk itu kami beri kesempatan agar RSBI di Kaltim juga bisa melakukan hal yang sama dan itu dimungkinkan karena sudah diperjelas dalam Peraturan Pemerintah (PP) namun tetap merangkul Disdik Provinsi Kaltim. ‘’Kami yakin di Kaltim khususnya Samarinda, Balikpapan Bontang dan Tarakan pasti bisa melakukan kerjasama dengan pihak perusahan yang peduli pendidikan, namun tentunya bisa dilakukan secara terbuka artinya kita bisa menjelaskan sekolah kami sedang dikembangkan menjadi RSBI yang kemudian menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional),’’ terangnya. Masih menurut Kadisdik Kaltim, sebenarnya RSBI itu sudah dikenal sejak beberapa tahun silam namun itu tidak gencar dilakukan sehingga banyak masyarakat bertanya-tanya apa itu RSBI, harus kita akui kalau hadirnya RSBI dengan sejumlah program masih belum merakyat artinya belum banyak dikenal terutama dari kalangan pendidik untuk itu perlu terus dilakukan sosialisasi, untuk itu sekolah yang masuk RSBI bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat termasuk via media masa soal RSBI yang ada dan jangan juga hanya berpikir kalau RSBI itu berarti akan bicara biaya tinggi. Menurut Musyahrim, kalau RSBI itu belum memiliki guru yang professional dan berkompetensi atau belum memiliki kepala sekolah yang berkelayakan dengan mengantongi ijazah S2 linier, silahkan laporkan masalah itu kepada kami nanti kita carikan solusinya tentunya dengan siap membayar gaji mereka lebih besar dari guru lainnya. max
|