Angka Kelahiran Kaltim Masih Tinggi2011-03-21 04:09:47
SAMARINDA, Angka ibu melahirkan di Kaltim masih relatif tinggi. Itu sesuai survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, tentang total fertility rate (TFR) yang mencapai 2,7 anak per ibu melahirkan selama masa reproduksi. Padahal, idealnya sesuai target dan batasan secara nasional untuk ibu melahirkan menurut RTF hanya 2,1 anak pada 2015. Saat ini target nasional, yakni 2,4 anak per ibu melahirkan selama masa reproduksi. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kaltim, HA Idrus Sebbu, usai membuka Seminar Sehari, tentang Program Manager Tingkat Provinsi Dalam Optimalisasi Pemanfaatan Hasil SDKI 2007 Dukungan Proyek Makro Internasional, di Samarinda, Senin (21/3). ”Kemampuan seorang perempuan melahirkan anak selama masa reproduksi atau TFR dalam dunia kesehatan Kaltim masih tinggi. Ini akan berimbas pada tingginya angka kelahiran bayi serta memicu tingginya angka kematian ibu saat melahirkan,” ujar Idrus Sebbu. Padahal lanjutnya, tingginya angka kelahiran ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan penduduk Kaltim diluar pertumbuhan migrasi. Tentu ini akan berakibat pada beratnya pembiayaan yang harus dilakukan pemerintah bagi masyarakat. Pembiayaan dalam penyiapan maupun pembangunan sarana dan prasarana pendidikan serta kesehatan maupun penyediaan lapangan kerja akan semakin tinggi dengan pertumbuhan penduduk, sekaligus akan berimbas pada rendahnya kualitas sumber daya manusia daerah. Menurut dia, walaupun Kaltim ini memiliki luasan wilayah satu setengah kali pulau Jawa dan Madura. Namun tidak mesti harus diimbangi dengan pertambahan dan pertumbuhan penduduk yang hampir tidak terkendali. Sebagai gambaran ujarnya, dengan tingginya kualitas sumber daya manusia (SDM) akanmenyumbang peningkatan ekonomi mencapai 80 persen, tetapi kalau hanya mengandalkan sumber daya alam itu hanya mampu memberikan sumbangan 20 persen. ”Banyak negara-negara maju memiliki SDM berkualitas dengan jumlah penduduk sedikit, namun tingkat perekonomiannya tinggi. Dibandingkan Indonesia maupun Kaltim, yang memiliki SDA luar biasa besarnya, namun karena rendahnya SDM berimbas pada rendahnya tingkat perekonomian daerah,” jelasnya.mar
|