Satpol PP Amankan 4 WTS Jalanan2011-03-21 22:20:39
TANJUNG REDEB, Hilang tumbuh silih berganti, mungkin demikian ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keberadaan Wanita Tuna Susila (WTS) yang kerap mangkal di sudut-sudut jalan dalam kota Tanjung Redeb. Lupa usia, bisa jadi itu yang terjadi pada sebagian besar penjaja cinta keliling ini. Meski sudah tergolong berumur namun tetap “percaya diri” nampang di sisi jalan berharap ada tuan bermodal yang sudi singgah dan memberi sedikit rezeki haramnya. Meski sudah rutin dirazia petugas baik dari kepolisian maupun Polisi Pamong Praja (Satpol PP), profesi itu sudah sulit dihilangkan. Meskipun Pemerintah Kabupaten Berau dengan tegas sudah melarang yang dituangkan dalam Perda Nomor 02 tahun 2007 tentang pelarangan pelacuran,dan ditindak lanjuti dengan razia rutin oleh Pol PP. Terakhir Pamong Praja kembali mengamankan 4 orang penjaja cinta keliling ini dan sampai saat ini masih dalam penanganan untuk kepentingan administrasi tugas Pol PP. Kasi Operasional Satpol PP Berau, Gamal Swanto kepada Poskota Kaltim menjelaskan, keempat orang tersebut akan didata dan diberi peringatan keras. “Ini yang pertama bagi mereka dan terakhir, jika kembali terjaring akan langsung kita tindak tegas,” ungkap Gamal. Seperti halnya ditempat prostitusi umum lainnya, terdapat juga sistem regenerasi pada kelompok WTS jalanan ini. Sebab menurut Gamal, 4 orang yang diamankan itu merupakan pemain baru. “Ini baru kita lihat, yang lama-lama entah kemana,namun usia mereka masih tidak jauh beda, usia mereka 35 tahun keatas,” sambungnya. Penahanan 4 orang ini dilakukan di jalan Durian I yang memang dikenal tempat mangkal pendahulu mereka. Bukan didalam hotel melainkan dipinggir jalan. Ketegasan itu dikatakan gamal sebagai implementasi kinerja dalam mewujudka tata tertib lingkungan umum yang mana menjadi salah satu bagian tugas pokok Pamong Praja. “Memang kita akui tidak mudah untuk meniadakan kelompok-kelompok mereka,namun setidaknya kita menekan, sebab jika dibiarkan mereka akan cepat berkembang, ini saja karena kita sempat longgar beberapa wakktu hingga mereka muncul lagi,” jelasnya. Dari data didapat, wanita-wanita itu berasal dari luar daerah. Dari kartu identitas mereka tidak ada yang menunjukan mereka warga Berau atau sudah menjadi warga Berau. Disebutkan, wanita-wanita itu adalah pendatang yang ingin mencari penghidupan dengan instans. “Lebih bagus lagi pemulung yang mau berusaha cara halal daripada mereka-mereka ini,” tutup Gamal. as
|