AMBUR Pasang Harga Mati Tolak Penambangan2011-04-07 00:55:34
TANJUNG REDEB,Kasak kusuk rencana penambangan batubara blok Prapatan Bujangga Site Binungan terus berlanjut. Aliansi Masyarakat Bujangga Bersatu (AMBUR) sebagai salah satu pelopor penolakan dengan tegas memasang harga mati menolak rencana tersebut. Ketua AMBUR Ismit Taufan SE melalui wakilnya Syarifuddin menegaskan, banyak factor yang jadi pertimbangan penolakan. Dalam beberapa kali pertemuan sejak 2010 lalu hingga terakhir 3 Februari 2011 seluruh masyarakat sepakat tetap menolak. Rencana salah satu perusahaan batu bara denga bekerja sama dengan sebuah yayasan di Kabupaten Berau itu dinilai dipaksakan. “Secara jelas kami menolak dan ada beberapa kejanggalan ddalam rencana tersebut,” tegas Syarifuddin. Salah satunya disebutkan, Komisi Penilai Amdal Kabupaten Berau tidak pernah melibatkan masyarakat sekitar dan tidak pernah memberikan tanggapan apalagi dalam b entuk persetujuan. Terlebih melihat beberapa contoh aktifitas tambang yang dilakukan dan memeberikan dampak disfungsi alam yang tidak terkontrol dari aktifitas itu seperti dengan cara blasting maupun manual. Masyarakat menurutnya sudah banyak mengetahui dampak-dampak negative dari usaha eksploitasi hasil bumi itu. “Masalah utamanya adalah kawasan itu sangat dekat dengan pemukiman, apa kita mau dijadikkan seperti daerah lain yang dikelilingi lahan tambang dan menderita saat banjir?,” ungkapnya lagi. Dalam pertemuan terakhir dengan 11 RT yang ada, kesepakatan itu tetap akan ditentang mengingat prediksi kerusakan dan dampak negatif langsung terhadap masyarakat sekitar. Disamping itu, kawasan lahan dimaksud dekat dengan Bandara Kalimarau, Taman Makam Pahlawan dan pemukiman masyarakat. Sementara itu ditempat terpisah, Sekreetaris Ambur, Wagimin menyebutkan penolakan itu sudah disampaikan kepada Bupati Berau, H Makmur melalui surat dan secara lisan. “Namun pak Bupati meminta ada waktu luang utuk membicarakan masalah ini, kami sadari kesibukan beliau dan juga masalah ini tidak bisa dibicarakan dalam waktu sebentar, sebab banyak sekali yang akan dibicarakan,” ungkapnya. Melihat posisi kawasan penambangan yang berada dekat pemukiman jadi alasan utama. Selain itu disebutkan kawasan dimaksud berada ditengah apitan dua sungai besar Berau yakni Sungai Segah dan Kelay. “Itu riskan sekali, apalagi Tanjung ini daerah rendah, kita lihat saja nanti bagaimana selanjutnya,” tutupnya. as
|