Tsunami Jepang Membawa BerkahNelayan Butuh Perhatian Pengusaha BBM
2011-04-14 06:39:33
TANJUNG REDEB, Bencana alam tsunami yang memporak pondakan negara Jepang membawa berkah tersendiri bagi H Muhamad Nasir, salah seorang pengekspor ikan. Namun yang menjadi kendala bagi dia adalah bahan baku, lantaran terkena dampak kelangkaan BBM di Berau. Kepada wartawan Nasir menjelaskan, sejak terjadinya bencana stunami di Jepang, permintaan ikan terus bertambah, bahkan tanpa batas. Karena perairan laut Jepang terkontaminasi bahan kimia, akibat ledakan nuklir. Diakuinya, meski pengeksporan tidak melalui dia langsung, tetapi melalui Surabaya. Akan tetapi peran dia sangat menentukan berapa besar jumlah ekspor ikan ke Jepang, khususnya wilayah Kaltim. Kalau sebelumnya dia hanya mengeksport ikan jenis Layur dan Gurita dalam setiap bulannya rata – rata 20 ton, maka sekarang ini Jepang mengharapkan pengiriman udang bintik. “Sekarang ini mereka meminta diekspor udang bintik. Berapa pun kami kirim, mereka siap menerima. Begitu juga ikan, semua tanpa batas, karena mereka sangat membutuhkan, ” tuturnya. Ikan dan udang itu diperoleh dari para nelayan yang ada di daerah Buyung Buyung, Kasai, Teluk Semanting, Pisang Pisangan, Mantaritip dan daerah pesisir lainnya. Selain itu Nasir sendiri yang memiliki 3 unit kapal yang dipercayakan kepada anak buahnya, juga turut membantu persediaan ikan. Untuk jenis ikan layang, putih, bawal, kakap dan jenis ikan lainnya, selain jenis ikan layur dan gurita, ia pasarkan dilokalan saja, termasuk Balikpapa, Samarinda, Nunukan, Malinau, Tarakan, Tanah Kuning dan Kabpaten Bulungan. Saat ini stok ikan yang siap ekspor sebanyak 3 ton. Namuan sayang, kata dia, saat ini dia menemui kendala, yakni bahan baku kurang siap. Sehingga pengiriman ikan dan udang pun terbatas. Ini semua ada keterkaitan masalah kelangkaan BBM yang hampir sepekan terakhir ini," ungkap Nasir. Sehingga, kebanyakan nelayan tak bisa mencari ikan, lantaran kapal mereka tak tak mendapatkan jatah BBM. Terpaksa kapal dijangkar begitu saja, sembari menungu BBM kembali normal. “Membeli eceran mahal, tak sebanding dengan pendapatan. Mau beli BBM ke SPBU atreannya melalahkan, itu pun kalau kebagian. Akhirnya nelayan pasrah saja dengan keadaan,” keluhnya. Untuk itu ia berharap kepada pengusaha BBM atau pemilik SPBU memperhatikan nasib nelayan, yang akhir – akhir ini makin terpuruk, karena kesulitan mendapatkan BBM, baik jenis solar maupun jenis premium. roz
|