Pembangunan Pelabuhan Petikemas Capai 60 Persen 2011-06-21 00:09:32
BALIKPAPAN, DPRD Kota Balikpapan mendesak pemkot untuk segera merealisasikan pembangunan pelabuhan petikemas di Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat yang masuk satu paket dengan Kawasan Industri Kariangau (KIK), kalau pelabuhan itu sudah tuntas terbangun bisa dioperasikan dan dimanfaatkan masyarakat karena pelabuhan tersebut sebagai solusi terkait kegiatan bongkar muat petikemas pelabuhan Semayang. Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Syukri Wahid mengatakan, kondisi Pelabuhan Semayang yang saat ini juga dijadikan tempat bongkar muat petikemas membuat pelabuhan tersebut kumuh, kotor bahkan tidak layak sebagai pelabuhan yang notabene tersibuk di Kalimantan, untuk itu kami berharap pembangunan pelabuhan petikemas di Kariangau segera dilakukan lebih cepat selanjutnya dioperasikan. “Pelabuhan Semayang itu kan bukan untuk pelabuhan petikemas, tapi karena tidak ada lagi pelabuhan lain yang lebih luas maka dilakukan bongkar muat disitu sehingga kondisinya sangat memprihatinkan, makanya pembangunan pelabuhan petikemas di Kariangau, Balikpapan Barat segera direalisasikan bahkan kalau bisa dipercepat pembangunannya,’’ kata Syukri, baru-baru ini. General Manager (GM) PT Pelabuhan Indonesia IV Cabang Balikpapan, Heru Bhakti Fireno,mengatakan kalau pembangunan pelabuhan petikemas atau kontiner di Kariangau terus dikebut dan saat ini pembangunannya sudah mencapai 60 persen dan kami juga sangat berharap agar pelkabuhan peti kemas itu bisa tuntas secepatnya untuk kemudian dioperasikan karena pelabuhan Semayang sudah tidak memadai lagi. Menurut Heru, PT Pelindo IV yang membangun pelabuhan peti kemas itu dengan anggaran mencapai Rp. 550 miliar, harapan kami pelabuhan itu bisa difungsikan sesegera mungkin, karena kondisi pelabuhan Semayang yang selama ini menjadi tulangpunggung bongkar muat kapal sudah tidak memadai dan sudah tidak bisa dipertahankan ladi apalagi dengan pertumbuhan arus masuk keluar kapal-kapal barang terus meninbgkat dan ukuran petikemas juga ikut berkembang sebab selama ini hanya ukuran 20 teus tapi sekarang ini sudahj didominasi petikemas ukuran 40 teus. Masih menurut Syukri, permasalahan bongkar muat kebutuhan pokok petikemas di pelabuhan Semayang, yang juga berimpilikasi terhadap arus transportasi darat yakni banyaknya kendaraan besar yang melintas di jalan protokol kota membuat kota semakin padat dan kerap terjadi kemacetan bahkan rawan kecelakaan. Lahirnya Perwali No 33 tahun 2009 tentang larangan jam edar bagi kendaraan besar untuk membatasi kendaraan besar yang juga berasal dari bongkar muat di Semayang, makanya kalau pelabuhan petikemas Kariangau sudah rampung maka kondisi itu bisa teratasi, dan kendaraan besar juga tidak akan melintas ke dalam kota lagi, ujar mantan calon walikota Balikpapan. Selain itu, kata Syukri lagi, banyaknya gudang-gudang yang menampung bahan kebutuhan pokok di tengah kota membuat kendaraan besar itu harus hilir – mudik masuk dan keluar kota dan ini menjadi penyumbang kemacetan yang semakin parah ditengah kota Balikpapan, untuk itu kami sangat berharap agar pemkot merubah site plan dan konsep tata kota terhadp gudang kebutuhan pokok agar dipindah ke wilayah Barat dan di KIK. max
|