Akseptor Pil KB tak Rentan Kanker2011-04-27 00:09:13
SAMARINDA, Untuk menciptakan keluarga berkualitas,program Keluarga Berencana di Kaltim terus digalakan. Salah satunya, program pemakaian alat kontrasepsi dengan tujuan mencegah terjadinya kehamilan. Namun, selain fungsi pencegahan kehamilan, alat kontrasepsi juga bisa membuat kulit wajah menjadi halus. Kalau ada yang mengatakan, akseptor pil KB rentan penyakit kanker jelas salah besar, justru membuat hormon lebih seimbang. Jadi masyarakat tidak usah ragu mengikuti program keluarga berencana. Demikian dikatakan,Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KS dan PK) BKKBN Kaltim, H Hatta, Selasa (25/4). Ia menambahkan, alat kontrasepsi, seperti pil KB, umumnya memang dikonsumsi untuk merencanakan sebuah keluarga. Namun, alat kontrasepsi ada banyak macam. Salah satunya, kontrasepsi hormonal yang bisa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. “Ketidakpahaman masalah KB, sebaiknya pendidikan ditingkatkan baik melalui media, atau pelajaran di sekolah. Bisa juga dengan peningkatkan jumlah klinik KB,” urainya. Menurutnya,pengertian alat kontrasepsi sebenarnya adalah usaha mencegah terjadinya kehamilan.Sifatnya bisa sementara atau permanen. Beda dengan keluarga berencana (KB) yang artinya lebih luas, yaitu mengatur atau menjarangkan kehamilan untuk merencanakan sebuah keluarga. Dijelaskannya,ada dua jenis kontrasepsi, yakni non-hormonal dan hormonal. Kontrasepsi non-hormonal ada tiga macam. Yang pertama, kontrasepsi teknik. Misalnya dengan menyusui. Menyusui 24 jam (full breast-feeding) selama enam bulan pertama usia bayi akan berpengaruh pada pencegahan ovulasi. Sedangkan kontrasepsi hormonal memiliki fungsi utama untuk mencegah kehamilan, tapi juga bisa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh. Kontrasepsi ini mempengaruhi kadar estrogen dan progesteron yang dapat mencegah ovulasi, sehingga akan mencegah kehamilan. “Kontrasepsi hormonal tidak boleh diberikan pada wanita yang sedang hamil, punya kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati atau tumor pada rahim. Yang termasuk kontrasepsi hormonal adalah pil kombinasi, suntik, susuk, juga koyo KB,” jelasnya. Sedangkan KB suntik memang praktis dan murah, tapi punya kelemahan, bisa mengganggu siklus haid., Begitu pula susuk yang ditanam di bawah kulit lengan. Praktis, tapi efeknya membuat nyeri lengan dan seringkali bermasalah saat proses pencabutan. Koyo KB ditempelkan di kulit setiap minggu. Sayang, bagi yang berkulit sensitif, koyo ini sering menimbulkan alergi. Ada juga faktor penyebab kegagalan penggunaan Pil KB. Jika salah memulai mengonsumsi, maka efeknya pun tidak maksimal. Dalam setiap kemasan, ada urutan hari dan panah untuk menunjukkan urutan konsumsi. Ditambah lagi, jika lupa memulai dengan kemasan baru pada waktu yang ditentukan setelah 7 hari bebas pil, juga tidak maksimal. "Pernah juga ada yang putus di tengah jalan karena efek samping pil yang menimbulkan rasa mual dan pusing. Apalagi jika ada yang termakan mitos bahwa tubuh harus istirahat selama 1 - 2 bulan setiap periode tertentu," urainya.john
|