Warga Seberang Tolak Angkutan Trailer2011-05-02 00:11:26
SAMARINDA, Warga Kecamatan Samarinda Seberang menolak jalan diwilayahnya dijadikan lintasan angkutan truk dan trailer khususnya yang dari pelabuhan Peti Kemas Palaran. Warga menuding bahwa aktifitas kendaraan besar yang melintas didaerahnya menjadi penyebab kerusakan badan jalan dibeberapa titik di Samarinda seberang, dan yang terparah adalah kerusakan jalan diwilayah Palaran yang hingga saat ini belum diperbaiki oleh pemerintah. "Kami tidak mau akses jalan yang ada saat ini dan menjadi satu-satunya harapan masyarakat Samarinda seberang ikut rusak seperti jalan yang ada di Palaran," kata Sopiansyah kepada Poskota Kaltim minggu (1/5) kemarin. Mereka berharao Pemkot Samarinda tidak hanya bisa memberikan ijin dan meresmikan Pelabuhan Peti Kemas, tetapi juga mampu membuat jalan khusus untuk angkutan Trailer sehingga tidak mengganggu jakan umum yang digunakan warga. Menurut dia, warga Samarinda Seberang tidak ingin jalan mereka digunakan para pengusaha khususnya pemilik angkutan truk-truk besar dan trailer untuk melintas. "Silahkan mereka mencari jalan lain, yang pasti kami tidak ingin jalan kami rusak akibat aktivitas angkutan pelabuhan palaran itu, kami tidak ingin ada warga kami yang tewas akibat kerusakan jalan," kata Sopiansyah. Sementara itu berdasarkan pantauan media ini simpang empat Jl Sultan Hasanuddin, puluhan masyarakat Samarinda seberang berdiri ditepi jalan , mereka mengawasi setiap kendaraan yang melintas daerah mereka, beberapa kendaraan besar yang melintas langsung dialihkan kejalan lain. Beberapa pengemudi mengaku kecewa namun mereka menyadari bahwa keinginan masyarakat tidak bisa ditolak. "Sebagai pengemudi, kita rugi karena jika melintasli lewat stadion kita yang rugi, selain rugi waktu dan harus memutar, pendapatan para pengemudi truk/trailer menjadi berkurang," katanya tanpa ingin menyebutkan namanya. Namun memang, seharusnya Pemkot Samarinda segera membangun jalan yang bisa digunakan angkutan pelabuhan untuk melintas, karena jika menunggu jembatan jadi masyarakat bisa saja marah dan dipastikan pemerintah juga yang akan mengalaminya. Disinggung mengenai beban angkutan yang terlalu berat bagi daya tahan jalan, warga Sungai Dama ini mengakuinya. "Jelas beban yang jadi masalah karena kelas jalan didaerah ini memang jauh dibawa rata-rata kelas jalan sehingga jika dilintasi trailer akan mudah rusak," katanya. Sementara itu di Jl Ampera yang merupakan jalan satu-satunya menghubungkan Samarinda ke Sangasanga Kutai Kartanegara terdapat lebih dari 35 titik jalan yang rusak. Jalan poros ini merupakan jalan satu-satunya menuju ke Pelabuhan Peti Kemas di Palaran Samarinda. Ketua Komisi II Anggota DPRD Kalimantan Timur Rusman Ya'qub beberapa waktu yang lalu mengungkapkan bahwa kerusakan Jalan Trans Kalimantan Timur memang tak pernah berakhir. Di sejumlah ruas jalan selalu mengalami rusak dan anehnya justru kerusakan terjadi di kawasan yang menjadi lintasan kendaraan bermuatan besar. "Kerusakan jalan ini kan karena kekuatan jalan tak sebanding dengan berat yang melintas di jalan," katanya. M4n
|