Pemkot Samarinda Dinilai Gagal Sukseskan PendidikanMahasiswa dan Pelajar Gelar Aksi Peringati Hardiknas
2011-05-03 00:15:50
SAMARINDA, Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional sejumlah mahasiswa dan pelajar di Kota Samarinda mengelar aksi di persimpangan depan Mall Lembuswana. Dalam aksi ini terdiri dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Aliansi Gerakan Pelajar indonesia. Selain membawa sepanduk dan tulisan dikarton mereka juga mengelar teaterikal yang dibawakan para pelajar yang ada di Samarinda. Menurut Kordinator Aksi, Dedy Pratama bahwa dalam aksi memperingati Hardiknas ini, pihaknya meminta pemerintah memperhatikan pendidikan di Samarinda, karena selama ini pemerintah hanya mengumbar janji untuk memajukan pendidikan. Dan Pemkot Samarinda juga harus segera membayar dana insentif dan bosda sebab ini guna memberikan motifasi guru agar mengajar lebih baik dan berkualitas. "Kami meminta priorotaskan pendidikan jangan hanya mengumbar janji pendidikan tapi perlu buktinya," kata Dedy, Senin (2/5), saat aksi di simpang Mall lembuswana. Dalam aksi ini, para pengunjuk rasa menampilkan teaterikal mengambarkan realitas yang ada saat sekarang. Saat teaterikal ini terlihat seorang Kepala sekolah telah disuap oleh Wali murid agar anaknya bisa masuk di sekolah tersebut. "Kami sangat prihatin atas kinerja pemerintah yang tidak memihak terhadap pendidikan selama ini," ujarnya. Setelah mengelar aksi, para pelajar langsung mereka membubarkan diri dan para mahasiswa berkumpul di Jl Pahlawan bersama rekan lainnya untuk menuju Balaikota. Dalam orasi di Balaikota, para mahasiswa menilai Pemkot Samarinda telah gagal mensukseskan program pendidikan. Ini dibuktikan dengan banyaknya permasalahan pendidikan yang hingga kini belum terselesaikan. Demikian penilaian puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Lembaga Mahasiswa Universitas Mulawarman Samarinda saat menggelar aksi damai "Hardiknas" di halaman Balaikota Samarinda. Menurut Ketua Bem Unmul Dimas Prasetya, sejumlah persoalan pendidikan di Samarinda yang sampai saat ini masih belum terselesaikan, seperti masih adanya sekolah yang menumpang (tidak punya gedung, red). Tercatat ada 10 sekolah SMA Negeri di Samarinda yang masih menumpang. "Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan program wajar (wajib belajar) 12 tahun yang dicanangkan Kemendiknas pada 2008 silam," katanya. Selain itu, masalah tunggakan Bosda dan insentif guru juga hingga sekarang belum tuntas-tuntas. Padahal tunggakan tersebut sejak 2009 lalu. "Sekolah-sekolah yang terlambat mendapat dana Bosda tentu khawatir karena mereka bingung harus membiayai biayai operasional sekolahnya, begitupun juga para guru saat ini sudah kelaparan menunggu pencairan insentif itu," ujarnya. Dalam aksi ini para mahasiswa yang ditemui langsung oleh Asiten III Ridwan Tassa. Disampaikan bahwa dana bosda dan insentif sudah cair hari ini (3/5). Dalam pertemuan singkat tersebut, para mahasiwa yang telah mendengarkan pernyataan Ridwan Tassa tersebut kemudian langsung meninggalkan Balaikota. aon
|