Langkah Berau Siapkan Sumber DayaDisbun Optimalisasi Perkebunan
2011-05-13 00:50:03
TANJUNG REDEB, Tak dapat dipungkiri, untuk wilayah dengan luas wilayah yang masih dominan dengan hamparan lahan kosong dan hutan seperti Berau menjadikan sektor perkebunan sebagai salah satu sektor andalan dimasa depan. Untuk saat ini, mungkin perkebunan masih kalah pamor dengan sektor primadona yakni batubara. Melihat hal itu, Pemkab Berau sudah memulai menggarap lahan-lahan kosong untuk perkebunan. Bukan baru memulai tapi sudah berhasil. Sejak 3 tahun terakhir optimalisasi perkebunan sudah dilakukan oleh Dinas Perkebunan Berau. Untuk optimalisasi perkebuan kelapa sawit sendiri saat ini sudah mencapai 7.430 hektar yang tersebar disemua kecamatan. Optimalisasi ini menurutnya menekankan pada seluruh kisi-kisi dibudidaya perkebunan kelapa sawit mulai peningkatan luas tanam, peningkatan produksi dan pengetahuan berkebun sawit. Langkah-langkah ini sejalan dengan program Pemkab Berau yang ditarget melalui program-programnya seperti program peningkatan kesejahteraan petani,peningkatan pemasaran dan hasil pertanian dan perkebunan, peningkatan penerapan tekhnologi pertanian perkebunan,peningkatan produksi pertanian dan perkebunan serta program pengembangan perencanaan perkebunan. Meskipun bukan satu-satunya jenis tanaman perkebunan di Berau, namun hingga saat ini sawit merupakan jenis yang paling popular dan merupakan yang memiliki luas area tanam paling luas dengan realisasi tanam seluas 42.062,64 hektare dengan komoditas kelapa sawit 41.680 hektare 5 dengan produksi CPO 2010 sebesar 186.829,526 ton. “Saat ini terdapat 33 perusahaan pemegang ijin lahan untuk perkebunan, dari jumlah tersebut sudah ada 14 perusahaan yang merealisasikan tanam dan kemitraan dengan masyarakat,” jelas Wisnu Haris kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau. Dari 14 perusahaan perkebunan swasta itu terjalin hubungan kemitraan dengan masyarakat melalui 35 koperasi. Hasil kemitraan itu telah menghasilkan 6.362 hektar tanaman sawit untuk plasma masyarakat. Menyadari keterbatasan modal bagi masyarakat petani yang ada, saat ini juga telah terjalin kerja sama antara salah satu bank di Berau dengan Asosiasi Kelapa Sawit (Aspawit). Sejak ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) kini BNI bisa disebut sebagai bapak angkat bagi petani kelapa sawit di Berau yang memberikan bantuan modal untuk usaha perkebunannya. Bupati Berau, H Makmur HAPK kala itu menyampaikan apresiasi kepada pihak BNI dan berharap kepada Aspawit yang telah mendapatkan bantuan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BNI agar dapat mengelola usaha perkebunan kelapa sawit dengan baik dan terus membina dan meningkatkankerjasama. “Gunakan momen ini menjadi suatu pembuktian bahwa masyarakat Berau bisa mengelola SDA dimiliki, tidak selalu harus oleh investor dari luar. Ini memang baru pertama kali masyarakat Berau benar-benar melakukannya sendiri, namun tidak menutup kemungkinan kedepan yang lainnya akan menyusul. Buktikan kalau kerjasa-ma ini akan membuahkan hasil yang baik,” kata Bupati Makmur. Dari sisi positif lain pengembangan bagi perkebunan sawit, bukan hanya memberikan keuntungan bagi warga penerima plasma namun juga mampu menyerap tenaga kerja yang sangat banyak. Masih terus ditingkatkannya sektor perkebunan di Berau khususnya Sawit tentu akan semakin banyak menyerap tenaga kerja local yang diharapkan dapat menyerap tenaga local. Saat ini dari sektor perkebunan terserap sebanyak 14.092 orang. Sementara itu, Anggota DPRD Berau dari komisi II, Andi Erson, yang membidangi perkebunan menyebutkan kebijakan meningkatkan sektor perkebunan merupakan langkah yang sangat tepat. “Sebab suatu saat sektor primadona batubara suatu saat akan habis karena merupakan SDA bersifat terbatas dan terus dieksploitasi, sementara perkebunan merupakan SDA budidaya selama dibudidayakan ya tidak akan habis,” sebutnya. Lagi, dalam konteks pemberdayaan, dijelaskan Andi, besar minat masyarakat berusaha disektor perkebunan. Sayangnya tidak semua warga mempunyai kemampuan finansial untuk memulai berusaha, dengan adanya plasma, apa yang menjadi hajat masyarakat itu bisa terwujud, terlebih dengan jalinan kerjasama masyarakat seperti MoU dengan BNI merupakan suatu terobosan yang sangat jitu. Melihat luas lahan Berau yang demikian luas, serta tingkat kecocokan tanah dengan tanaman keras komoditi perkebunan seperti sawntara itu it, karet, kopi, lada dan lainya, sektor perkebunan, merupakan potensi besar untukk masa depan. Perkebunan digadang menjadi potensi utama pengganti batu bara yang sampai kini masih terus digali. ”Kita punya lahan luas dan potensial,ini harus dikembangkan, sebab batu bara suatu saat pasti akan habis, jadi sejak sekarang sudah harus dipersiapkan,” tegas Andi. as
|