Butuh Keberadaan Tata Niaga Nilam2011-05-19 06:28:50
TANJUNG REDEB, Meskipun kalah pamor dengan budidaya tanaman lain, Nilam bukan tidak memiliki nilai ekonomis yang menggiurkan. Setidaknya hal itu berlaku bagi Amir Alam,(42) warga RT 03 Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur. Tanaman penghasil minyak Atsiri ini giat dikembangkannya dan diyakini mampu membawa peghidupan bagi keluarganya. Nilai ekonomis tinggi dan mudah dikembangkan menjadi salah satu pertimbangan usaha dibidang pertanian budidaya Nilam. Sayangnya hingga saat ini pemasaran minyak atsiri hasil dari tanaman nilam masih menjadi masalah baginya. Sejak memutuskan untuk membudidayakan tanaman ini, Amir memang belumpernah menjual hasil olahannya sedikitpun, namun saat ini ia menyebutkan telah memiliki 30 liter minyak atsiri hasil olahannya, yang dihasilkan dari pemanfaatan mesi pengolah yang didapatnya dari bantuan PT Berau Coal. “Sudah banyak pembeli yang menawar tapi belum saya jual, waktu itu mereka tawar Rp 600 ribu satu liter,” ungkapnya enggan menyebutkan alasan tidak menjual hasil nilamnya itu. Harga itu dinilai masih belum menguntungkan jika dilihat dari seluruh jerih payah yang telah dilakukan. Untuk menjualnya, Amir masih menunggu harganya naik, sebab harga Atsiri pernah mencapai Rp 2 juta perliternya. Ketertarikannya mengembangkan nilam itu karena berbagai faktor. Diantaranya lahan di kawasan Maluang itu dinilai sangat subur untuk ditumbuhi nilam walaupun tanpa pupuk, di samping masih banyaknya lahan yang kosong. Selain itu budidaya nilam ini juga sangat mudah untuk dilakukan setiap orang lantaran hanya batangnya saja yang ditanam. Namun untuk pembibitannya sendiri, diakui, Berau Coal sudah sangat membantu pengembangannya dengan bantuan 20 ribu bibit. “Tapi baru 9 ribu yang didatangkan, masih ada 11 ribu sisanya, saya sendiri juga sudah bisa mengembangkan pembibitan dari hasil tanaman yang ada ini,” jelasAmir seraya mmenunjuk kebun nilamnya. Ketertarikannya pada tanaman ini, juga didasari masih kurangnya warga yang membudidayakan. Apalagi Nilam, menurutnya dapat ditanam dengan mudah sebagai tumpang sari dilahan palawija lainnya. Namun demikian, bukan berarti budidaya tanaman ini tanpa kendala sama sekali. Amir menyebutkan, hama ulat, jamur dan belalang menjadi salah satu musuh yang harus dibasmi. Untuk lebih meningkatkan geliat budidaya, Amir berharap kedepan ada perhatian Pemkab Berau,instansi terkait, maupun PT Berau Coal sendiri untuk membentuk satu tata niaga nilam di Berau. Sebab, sampai saat ini, masalah penjualan juga masih menjadi pertimbangan dimana harga jual masih bisa dipermainkan oleh tengkulak (ijon). “Artinya kalau bisa jangan tanggung-tanggung, dalam membantu tapi hanya sebatas budidaya, kalau bisa ada pemberdayaan berlanjut seperti penampung dengan harga yang pasti dan tidak ikut harga tengkulak,” harapnya, Masalah lain disampaikan yakni alat pemasak yang ada masih belum maksimal baik daya tampungnya juga kualitas alat. Saat ini alat pemasaknya hanya mampu menampung sekitarr 70-100 kilogram nilam kering sekali masak. Pertimbangan itu diddasarkan pada bahan bakar pemasak yang akan sama banyaknya dan tidak berpengaruh pada sedikitbanyaknya nilam yang dimasak. Dirinya berharap, kedepan ada bantuan yang diberikan untuk alat masak nilam dengan kkapasitas yang lebih besar lagi, juga dengan kondisi yang baik. Dalam 100 kilogram daun basah biasanya akan menghasilkan 25 kilogram nilam kering. Namun untuk saat ini, karena belum banyak warga yang menanam, kapasitas alat masak dirasa masih cukup, hanya kualitas alat yang kurang memadai. Ditargetkan, untuk kelompok tani setempat, bisa menanam sebanyak 10 hektar dan dengan pola penanaman berlanjut. as
|