BPPKB Gelar Pelatihan Keseteraan Gender2011-05-26 00:19:25
Bontang, Gender selalu diidentikkan dengan perempuan. Padahal, gender mencakup persamaan dan perbedaan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan domestik atau publik. Makanya dikenal istilah kesetaraan gender. Kesetaraan diperlukan, agar bisa hidup selaras, serasi, dan seimbang. Baik dalam lingkup keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian laki-laki dan perempuan dapat saling mengisi dan saling berbagi tugas dalam segala aktivitas dan dimensi kehidupan dan pembangunan. Untuk memberikan pemahaman serta pengertian bagi masyarakat khususnya bagi Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) tentang kesetaraan gender, Pemkot Bontang melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Bontang, Selasa (24/5) menggelar Pelatihan dalam Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dengan tema ‘Strategi Pembangunan Responsif Gender’ yang berlangsung di Hotel Bintang Sintuk Bontang. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari mulai tanggal 24 hingga 26 Mei 2011 ini mendatangkan narasumber dari Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA) Drs Darmawan M SI dan Bambang Wiranto Grad Dip Adm MM, Dra Hj Widyatmike Gede Mulawarman M Hum dari PPG Unmul, serta Kepala Badan PPKB Provinsi yang diwakili Hj Sri Lestari. Wakil Walikota (Wawali) Bontang H Isro Umarghani menyambut baik kegiatan ini dan berharap kesetaraan dan keadilan gender dari waktu ke waktu dapat terwujud dan dapat meningkatkan wawasan dan pemahaman segenap komponen masyarakat dan penyelenggara pemerintah tentang konsep gender dan pengarusutamaan gender. Wawali menambahkan, kesenjangan gender merupakan dampak dari tata nilai budaya, dimana perempuan paling banyak dirugikan. Karena itu, kerja sama laki-laki dan perempuan diperlukan dalam mengurangi kesenjangan gender dalam keluarga dan masyarakat. “Perubahan tata nilai dan budaya mutlak dilakukan secara bertahap dengan memperkenalkan norma baru yang lebih rasional, lebih baik, dan lebih manusiawi,”ujar Isro Umarghani. Menurut Wawali kesetaraan gender bagi perempuan bukan berarti perempuan memiliki peran yang persis sama dengan pria. Dalam kehidupan keluarga misalnya, fakta istri harus tinggal di rumah, dan suami harus bekerja tidak lagi dianggap sebagai aturan yang tegas. Peran perempuan saat ini tidak hanya sebatas perannya yang harus memastikan keberlanjutan reproduksi. “Problem besar yang dihadapi perempuan adalah ketika tuntutan penghidupan, menuntut para wanita untuk terus produktif. Produktif dalam membantu suami mencari nafkah. Tuntutan ekonomi pada akhirnya memaksa mereka untuk bekerja. Namun perlu digarisbawahi bahwa kesetaraan gender harus sesuai dengan porsinya tanpa menyimpang dari kodratnya sebagai seorang perempuan atau seorang ibu,” pungkasnya. (hms4)
|