Masyarakat Perbatasan Harus Lebih BaikAndi Agoes : Pejabat Silahkan Lihat Langsung, Jangan Hanya di Kota
2011-06-01 06:27:52
BALIKPAPAN,Pangdam VI/ Mulawarman Mayjen TNI Tan Aspan mengatakan, keterlambatan pembangunan di wilayah perbatasan Indonesia – Serawak dan tempat-tempat lainnya di tanah air karena banyak departemen atau kementerian yang harusnya mengerjakan sejumlah proyek di perbatasan termasuk di Kaltim/Kalbar–Serawak, namun tidak dikerjakan dan ini akhirnya membuat warga perbatasan merasa dianaktirikan. Keluhan masyarakat perbatasan sudah didengar oleh pemerintah pusat termasuk pemerintah provinsi dan Kabupaten, tapi banyak proyek enggan dikerjakan tanpa diketahui penyebabnya, ini kami ketahui sebab sempat berada dipusat khususnya di bagian perencanaan pembangunan, karena banyak proyek termasuk infrastruktur yang tidak dikerjakan sehingga kami dari TNI-AD melalui TNI masuk Desa membangun beberapa sarana dan prasarana jalan. Diakuinya, pembangunan yang ada di sepanjang perbatasan memang masih sangat minim, yang lebih fatal lagi ada masyarakat yang akhirnya menjual hasil pertanian mereka ke Sabah, Malaysia Timur karena jika dijual di Kaltim belum didukung adanya prasarana jalan dan jaraknya pun sangat jauh dan tentunya juga akan memakan biaya yang besar. Kalau hanya dari TNI yang membuka jalan untuk kebutuhan masyarakat tentunya tidak mungkin karena target TNI Manunggal masuk desa hanya dilaksanakan dalam beberapa hari saja, namun demikian kami tetap manfaatkan peluang itu dengan membangun sejumlah ruas jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Pangdam VI/Mulawarman ini mengaku sangat mendukung upaya pemerintah untuk membangun berbagai sarana dan prasarana diperbatasan, apalagi selama ini kondisi perbatasan disoroti berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun apa yang disuarakan oleh para LSM sebenarnya itu semua benar sebab masyarakat diperbatasan membutuhkan jalan darat tapi tidak pernah dibangun. Ditanya adanya isu kalau sebagian warga Krayan Kabupaten Nunukan akan melakukan eksodus ke negeri Jiran, jika pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten tidak memberikan perhatian kepada masyarakat perbatasan, apalagi Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun tapi pembangunan diwilayah perbatasan sangat tertinggal, padahal potensi diwilayah itu khususnya pertanian dan peternakan sangat besar sekali. Pangdam VI/Mulawarman, langsung menanggapi hal itu. Dia mengatakan kalau ada isu eksodus, sebenarnya tidak benar dan tidak ada masyarakat yang akan eksodus, mereka memahami benar apa itu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hanya saja tentunya kita jangan meremehkan isu itu, oleh kami sarankan agar pemerintah seriuslah membangun wilayah perbatasan. Adanya suara keras dari Korwil IV Persiapan Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PPKRI) Kalimantan, H. Andi Agoes, Y, SH terkait berbagai pembangunan disepanjang perbatasan yang jumlah desa mencapai 255 desa dan dinilai sangat terbelakang harus mendapat perhatian pemerintah. ‘’Apa yang disuarakan oleh Korwil IV PPKRI Kalimantan itu benar, mereka berkeinginan agar pemerintah serius memperhatikan kehidupan masyarakat yang tinggal dan bermukim di sepanjang perbatasan yang selama ini dinilai sangat terkebelakang,’’ ujar Tan Aspan, usai mengikuti acara pelantikan Walikota/Wakil Walikota Balikpapan di BSCC / DOME Balikpapan, belum lama ini. Korwil IV PPKRI Kalimantan dan Koordinator Gabungan Wartawan Kalimantan, H. Andi Agoes, Y, SH mengatakan kalau pembangunan di sepanjang perbatasan yang selama ini dibicarakan secara serius oleh pemerintah, itu tidak lebih hanya wacana, sebab sampai hari ini belum banyak bukti yang bisa dilihat, justru masyarakat dan TNI yang membangun jalan bagi kesejahteraan masyarakat sepanjang perbatasan. ‘’Kami melihat beberapa hal penting yang harus dikerjakan dalam waktu dekat ini seperti infrastruktur jalan (Transportasi, red), pendidikan dan kesehatan, kalau kita melihat dikota-kota yang ada di Kaltim, semua dibangun ada jalan yang sudah berkali-kali diaspal tapi jalan di sepanjang perbatasan sangat memprihatinkan,’’ ujar Andi Agoes. Masih menurut Andi Agoes, yang juga tokoh masyarakat Nunukan pemerintah harus melihat langsung wilayah-wilayah perbatasan, selanjutnya merencanakan pembangunan yang paling diutamakan seperti infrastruktur, masyarakat sudah jenuh dengan janji-janji pemerintah yang akan membangun berbagai kebutuhan masyarakat, tapi kenyataannya tidak ada, kalau ada justru badan jalan yang dibangun oleh TNI melalui program TNI Manunggal. Kalau pemerintah pusat dan provinsi mau dating diperbatasan dan melihat kondisi ril masyarakat, jangan hanya di Nunukan atau Sebatik yang akan dijadikan Kota Sebatik, silahkan datang ke desa-desa sepanjang perbatasan disana banyak desa dan banyak warga yang tidak mengenyam pendidikan dengan baik, banyak warga yang sakit hanya mendatangi dukun, banyak anak-anak sekolah yang hanya belajar dibawa kolong rumah karena tidak ada sekolah, banyak anak-anak kita yang kesekolah tidak menggunakan sepatu tapi semangat belajar tinggi, tolong ini diperhatikan dengan benar dan sungguh-sungguh. Dalam waktu dekat ini kami dari PPKRI Kalimantan Rayon Kaltim bersama Gawak akan melakukan perjalanan ke Krayan di Nunukan dan selanjutnya akan mendatangi Desa-desa di Kabupaten Malinau, kami ingin melihat secara langsung kehidupan masyarakat dipedalaman yang hidupnya terisolir dan kami akan laporkan kepada pemerintah baik provinsi maupun pusat berdasarkan fakta yang ada. Banyak pejabat yang sangat prihatin dengan kehidupan masyarakat disepanjang perbatasan namun hanya sebatas prihatin, tidak ada tindak lanjut yang akan dilakukan sehingga kehidupan masyarakat disanma bisa berubah menjadi lebih maju, kalau hasil pertanian harus dijual ke Malaysia, ini sangat ironis sekali, kenapa tidak dijual di Indoensia, seperti di Samarinda, Bontang, Sangata atau Balikpapan. Ada satu harapan kami kepada pemerintah, datang dan lihat sendiri kehidupan masyarakat disepanjang perbatasan tapi jangan dikota-kota seperti Nunukan, silahkan datang kepedesaan disana para pejabat akan miris melihat kehidupan saudara kita disana, kita harus berbuat bukan hanya mengatakan kasihan tanpa ada realisasi apa-apa. max
|