Kembangan Sapi Untuk Kebutuhan Daging2011-06-01 06:49:53
SETELAH Dua tahun lebih lamanya Dinas Perternakan berdiri sendiri, banyak mengalami perubahan signifikan. Salah satunya adalah, membuat program swasembada daging, melalui pengembangan sapi di perkebunan kelapa sawit. Hal itu tak lain untuk memancing animo masyarakat mengembangkan sapi di Berau, baik secara kelompok maupun melalui secara individu. Tak terkecuali menarik minat investor berinvestasi melalui mengembangkan hewan sapi, yang cenderung setiap tahunya kebutuhan terus bertambah. Bupati Berau H Makmur HAPK menjelaskan, Pemkab Berau melalui Dinas Peternakan sebenarnya sudah lama merintis skenario ternak sapi di perkebunan kelapa sawit itu. Agar rumput yang tumbuh segar di areal perkebunan kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan sapi, dari pada meghalangi pertumbuhan kelapa sawit. Sehingga perkebunan kelapa sawit yang ada tidak terganggu, dan selalu terlihat bersih. “Nah, program ini sedang kami pelajari hingga pendalaman metodenya. Agar dalam pelaksanaannya nanti kita dapat melaksanakan dengan baik,” katanya. Hal ini kata Bupati, tentu sinkron dengan program swasembada daging. Dimana kedepan Berau tak perlu lagi mendatangkan sapi dari luar daerah, baik dari Sulawesi, Nusa Tengggara Timur (NTT), atau pun dari Jawa. Pasalnya, melalui ternak sapi di perkebunan kelapa sawit itu, Beraub dapat memenuhi kebutuhan daging sapi sendiri. Baik untuk kebutuhan sehari hari, maupun kebutuhan dihari raya Idul Adha. Sebab, kebutuhan sehari – hari dan hari raya Qurban setiap tahunnya terus meningkat, baik kebutuhan perorangan maupun perusahaan. Oleh sebab itu Pemkab Berau siap menyediakan lahan bagi investor yang berminat mengembangkan sapi di Bumi Batiwakal ini. “ Kita siap saja membantu, bila perlu nanti kami yang siap kan lahan, kalau investornya serius. Karena ini menyangkut kebutuhan masyarakat,” tuturnya. Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Berau, Imam Gazali mengatakan, berkat program – program yang dicanangkan selama ini, dinas yang dipimpimnya pernah berhasil meraih juara dua, kategori keberhasilan pembangunan tingkat Provinsi Kaltim. Kesemuannya itu, kata dia diakui tidak terlepas dari dukungan, anggota DPRD Berau, dari masyarakat , dan termasuk dukungan dari wartawan, melalui informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Sehingga Dinas Peternakan mendapat perhatian dari semua pihak. Bahkan alokasi dana untuk Dinas Peternakan sendiri setiap tahunnya selalu mendapat dukungan juga dari Anggota DPRD Derau, dan mendapat aliran bantuan dari Pemprov Kaltim. Dengan demikian, program – program yang direncanakan dari awal dapat berjalan sesuai rencana, salah satunya adalah program pengembangan sapi, pengolahan dari sistem perorangan menuju pola pengawasan Dari keberhasilan yang sudah dicapainya, ia juga mengungkapkan, bahwa untuk di Kaltim, hanya Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang Dinas Peternakan nya sudah berpisah dengan dinas lainya. “Makanya kayak Bulungan dan Tarakan mereka ingin belajar dengan kita, bagaimana caranya Dinas Peternakan, termasuk program apa saja yang kita terapkan di lapangan,” bebernya. Agus Tamtomo mantan anggota DPR RI juga mengungkapkan, dirinya juga berminat mengembangkan sapi di Berau. Agar kebutuhan daging sapi di Berau yang setiap tahunnya cenderung terus meningkat itu, dapat dipenuhi sendiri, tanpa harus mendatangkan sapi dari luar daerah. Meski penyediaan bibit sapi sampai saat ini belum ada yang berani menjamin, tetapi dirinya tetap berusaha merealisasikan rencana itu, mencari celah untuk melakukan pengembangan sapi tersebut, agar kebutuhan daging di Berau yang saat ini didatangkan dari luar 50 persen, dan dari Berau sendiri 50 persen, kedepan nanti tidak perlu mendatangkan lagi. Dengan adanya pengembangan itu, Agus juga merasa yakin dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat Berau, yang diyakini mampu dapat meningkatkan sumber pendapatan masyarakat. Pasalnya, dia akan memprioritaskan tenaga lokal dalam pengembangan sapi tersebut. Ketua DPRD Berau, Hj Elita Herlina juga mengatakan, kendati Dinas Perternakan hanya mampu meraih peringkat dua kategori keberhasilan pembangunan, namun menurut nya keberhasilan itu sudah menunjukan keseriusan seorang kepala dinas dan stafnya mengemban amanah. Apa lagi kata dia Dinas Peternakan ini baru berusia dua tahun mandiri, berpisah dari Dinas Petanian. Tetapi, berangkat dari keseriusan itu lah akhirnya membuahkan hasil yang ingin dicapai. Karenanya ia berpendapat, bahwa anggota Dewan selalu mendukung jika bicara soal kebutuhan anggaran, untuk merealisasikan program – program yang akan dicanangkan untuk kepentingan masyarakat. Tetapi dengan catatan, anggaran yang diusulkan masing – masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD), harus jelas dan nyata program kerjanya. “ Agar pengelontoran dana itu tidak sia – sia, dan tidak menjadi bahan temuan BPKP,” terangnya. Untuk itu saran dia, kegagalan harus dijadikan bahan evaluasi dan kajian, dimana titik kelemahannya dan dimana kekurangannya, semua yang terlibat dalam kedinasan harus saling koordinasi, antara atasan dan bawahan. Agar terjadi sinkronisasi antara pendapat dengan program yang sudah terencana. “ Jadi inilah menurut saya yang penting, harus saling mengisi dan saling intropeksi diri, untuk mewujudkan program masing - masing SKPD,” imbuhnya. (Wanda Nunung Fachrurroziz)
|