Petani Diajak Manfaatkan Lahan Eks Tambang2011-06-17 22:54:18
SAMARINDA,Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, HA Waris Husain, mengajak para petani untuk memanfaatkan lahan bekas tambang batubara bagi peningkatan kesejahteraan mereka. Baik menggunakannya untuk perkebunan kelapa sawit maupun budi daya ikan air tawar. “Gunakan lahan bekas tambang untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Lahan hasil reklamasi tersebut masih produktif, saya sudah membuktikannya dengan petani binaan saya di Karang Mumus, Samarinda Utara, yang memanfaatkan lahan bekas tambang PT Lana Harita untuk perkebunan kelapa sawit,” kata Waris Husain, kemarin, menanggapi pelaksanaan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XIII, 18-23 Juni 2011 di Tenggarong, Kukar. Menurut politisi Partai Patriot yang juga menjabat Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kaltim ini, ada ratusan ribu hektar lahan bekas tambang 32 perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan 1.271 pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) eks Kuasa Pertambangan (KP) di seluruh Kaltim yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian produktif. Sejak tahun 2005 akhir, dia bersama dengan petani binaannya di Karang Mumus, Samarinda Utara menanam kelapa sawit di lahan bekas tambang PT Lana Harita seluas sembilan hektar. Hasilnya, sawit tumbuh dengan bagus dan sekarang sudah belajar berbuah. “Sekarang satu setengah hektar bisa panen satu ton. Kami menjualnya ke Saliki, Muara Badak dengan harga Rp850 per kilogramnya. Ini baru buah hasil belajar, satu tandannya masih 4-5 kilogram. Tapi lumayan lah,” kata mantan Walikota Samarinda dua periode ini. Politisi kelahiran Muara Badak, 10 Juni 1944 ini tertarik ikut membina petani sawit berkat ajakan almarhum Haji Ridwan, seorang petani setempat. Pria ini memiliki lahan seluas 100 hektar yang batubaranya diambil oleh PT Lana Harita, namun tanah tersebut tidak dia jual. Setelah ditambang, lahan dikembalikan lagi oleh pihak perusahaan untuk direklamasi dan dikelola menjadi kebun sawit. Pertama Waris hanya ikut membantu biaya membeli pupuk dan biaya perawatan kebun dan mendapat bagian keuntungan apabila sawit sudah dipanen. Kerjasama tadinya berlangsung selama 25 tahun. “Namun karena Pak Haji Ridwan meninggal, akhirnya oleh pihak keluarga almarhum saya sendiri dikasih lahan sembilan hektar, ditambah empat hektar, sehingga totalnya 14 hektar. Dengan sejumlah petani lainnya, saya bersama-sama mengelola kebun sawit tersebut hingga sekarang. Dari 14 hektar, baru sembilan hektar yang sudah saya tanami sawit,” kata Waris Husain. Salah seorang petani sawit binaan Waris, Ahmad, menuturkan dirinya sudah membuktikan lahan bekas tambang produktif untuk ditanami sawit. Tak ada kesulitan merawat kelapa sawit di lahan bekas tambang, kecuali memerlukan perlakuan khusus dalam pemupukan. Tanah hasil reklamasi bisa langsung ditanami kelapa sawit, kecuali lahan berbukit-bukit yang perlu diratakan untuk mempermudah penanaman bibit sawit. “Menanam sawit lebih mudah dibanding menanam coklat. Perawatannya juga gampang. Tinggal pemupukannya saja, karena lahan eks tambang tentu memerlukan pemupukan ekstra, dibanding lahan normal,” kata Ahmad. Namun dia mengaku seringkali kesulitan mencari pupuk di Samarinda. Berbeda di Sulawesi, ada uang pasti ada pupuk, di Ibukota Kaltim ini seringkali stok pupuk sawit kosong. “Makanya di Penas Petani Nelayan XIII di Tenggarong, saya akan belajar memanfaatkan pupuk kandang untuk kelapa sawit,” kata Ahmad. hms/adv
|