Andi Agoes: Pendidikan dan Kesehatan di Perbatasan MemprihatinkanPerjalanan Jurnalistik ke Wilayah Perbatasan Kaltim-Serawak 10-18 Juni 2011
2011-06-30 06:42:54
BALIKPAPAN, Setelah melakukanperjalanan jurnalistik di wilayah perbatasan Kalimantan Timur – Serawak, Malaysia Timur selama delapan hari, terlihat dengan mata kepala sendiri khusus untuk pendidikan dan kesehatan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah baik pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten khusus di Malinau dan Nunukan. ‘’Kalau masyarakat masih condong berobat ke dukum itu pertanda kalau daerah itu belum banyak dijangkau bidang kesehatan dan ini kami lihat sendiri dan berbincang dengan masyarakat di wilayah perbatasan khususnya di Kecamatan Krayan Selatan yang berdekatan dengan perbatasan, mereka mengaku lebih condong ke dukun,’’ kata Andi Agoes, Koordinator Wilayah IV Persiapan Perintis Kemerdekaan Indoensia (PPKRI) Kalimantan, kemarin. Dia mengatakan, perjalanan jurnalistik bersama 12 wartawan dari berbagai media cetak dan elektronika sempat berjalan berkilometer diwilayah Krayan dan melihat perkembangan pembangunan yang ada di sana. Kalau bilang pembangunan sudah deprogramkan pemerintah sejak beberapa tahun silam, itu memang perlu dilihat secara langsung di lokasi sehingga tidak menimbulkan fitnah dan kalau akhirnya masyarakat di Krayan Utara dan Selatan sampai di Long Layu menyatakan pembangunan belum menyentuh daerah perbatasan itu ada benarnya, karena banyak jalan justru hanya dibangun oleh warga dengan tujuan mempermudah untuk memasarkan hasil pertanian ke negara tetangga Serawak, sebab menjual ke wilayah Indonesia tidak mungkin karena akses jalan darat sama sekali tidak ada apalagi untuk kendaraan bermotor. Sebagai bangsa Indoensia yang sudah merdeka selama 65 tahun, tentunya sangat miris melihat kehidupan masyarajkat di sepanjang perbatasan Kaltim-Serawak, karena umumnya mereka hanya hidup bergantung dari negara tetangga, padahal mereka itu penduduk asli Indonesia. ‘’Coba kalau hasil pertanian harus dijual ke Serawak, tentunya ini menjadikan pertanyaan bagi kita, apa yang sudah pemerintah Indonesia perbuat bagi kesejahteraan masyarakat disepanjang perbatasan,’’ jelas Andi Agus. Jalan darat yang dibangun masyarakat di Kecamatan Krayan menuju Serawak memang ada dan tujuannya hanya untuk mempermudah masyarakat petani menjual hasil pertanian mereka. Kalau harus dijual di Samarinda sama sekali tidak mungkin karena masyarakat yang akan berkunjung ke Samarinda saja harus menumpang pesawat berbadan kecil dengan tiket yang cukup mahal. Ditanya masalah pendidikan, Andi Agus mengakui sangat memprihatinkan, kalau Kadisdik Provinsi Kaltim menyatakan jumlah guru yang ada di Kaltim sudah sangat cukup, itu benar adanya tapi kenapa guru-guru tidak ingin mengabdi ke perbatasan padahal di sana sangat banyak anak-anak kita yang bersekolah tapi harus menempu jarak yang sangat jauh dan yang lebih memprihatinkan lagi ada sekolah hanya diajarkan oleh tiga guru tidak tetap kecuali kepala sekolah. ‘’Ada sekolah yang gurunya hanya dua atau tiga orang, padahal anak-anak di sana kendati banyak yang ke sekolah tidak menggunakan sepatu tapi semangat sekolah tinggi. Yang paling menyedihkan justru guru hanya dua atau tiga orang padahal idealnya satu sekolah SD guru harus berjumlah 10 orang termasuk kepala sekolah,’’ terang Andi Agoes. Belum lagi soal buku atau alat tulis yang harganya sangat tinggi, sekolah-sekolah doperbatasan sangat berharap ada kiriman buku-buku pelajaran ke wilayah Utara untuk kecerdasan dan kelancaran anak-anak mengetahui berbagai pembangunan yang ada di Indonesia. ‘’Kami ingin berdiskusi dengan Disdik Provinsi terkait penjabaran guru dan alat-alat belajar sekolah yang dibutuhkan oleh sekolah-sekolah di perbatasan baik tingkat SD, maupun SMP, sebab kalau SMA dan SMK masih sangat minim dan hanya ada di Nunukan atau Malinau saja,’’ ungkapnya. Untuk kesehatan, tidak semua desa dan kelurahan ada Puskesmas, jadi tiga desa yang berdekatan baru ada satu puskesmas. Diharapkan kedepan paling tidak pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Kesehatan Provinsi bisa membangun berbagai fasilitas kesehatan di desa-desa yang ada di perbatasan, sehingga kesehatan yang menjadi harapan kita semua termasuk Gubernur Kaltim Awang Farouk Ishak bias terwujud. Artinya, ketika dicanangkan Kaltim Sehat, paling tidak masyarakat berobat ke Puskesmas bukan ke dukun seperti yang berlaku sampai saat ini. max
|