Tarif Angkot Naik Dinilai WajarDampak Kelangkaan BBM di Berau 2011-07-11 23:00:34
TANJUNG REDEB, Poskota Kaltim Kelangkaan BBM, khususnya BBM jenis premium di Kabupaten Berau memaksa supir angkutan kota (angkot) menaikan tarif hingga 10 persen. Menurut Ketua Komisi II DPRD Berau Burhan Bakran, kenaikan tarif itu wajar, mengingat premium langka di pasaran. Diakuinya, untuk menadapatkan premium saat tidak gampang, meski harus ikut mengantre di SPBU, paling tidak berjam – jam, bahkan ada pula yang harus menginap baru bisa mendapatkan premium. Itu pun harus rela melawan terik matahari yang menyengat. Kalau pun ada di eceran saat ini sangat mencekik leher konsumen, sebab yang dijajakan pengecer antara Rp 9 ribu hingga Rp 12 ribu perbotol. Bahkan menurut informasi ada pula yang menjual Rp 15 ribu per botol. Itu pun kalau ditakar, tidak sampai satu liter. “Jadi wajar saja lah kalau para supir Angkot menaikkan tarif, dan penumpang pun harus memaklumi nya,” katanya. Dikatakannya juga, mungkin bagi penumpang umum kenaikan tarif itu tidak begitu terasa, karena penumpang umum mayoritas berpenghasilan. Nah, giliran kena penumpang nya berstatus pelajar, hal itu mungkin agak memberatkan. Apa lagi yang bersangkutan diberi uang saku pas – pasan. “ Nah inilah yang sara rasa sangat delematis bagi supir Angkot. Dinaikkan salah, tidak dinaikkan salah juga,” terangnya Sebab menurut pengakuan sejumlah supir Angkot kepadanya, akibat kelangkaan BBM ini mebuat meraka harus mencari solusi sendiri, tanpa harus menunggu pengumuman dari dinas instansi terkait, untuk menutupi uang setoran dan kebutuhan keluarganya. Salah satunya adalah menaikan tarif. Misalnya, Tanjung Redeb – Teluk Bayur biasanya Rp 5 ribu, dinaikan menjadi Rp 7 ribu. Hal itu disesuaikan dengan kondisi BBM saat ini. Menaikkan tarif ini pun kadang kala harus perang urat saraf dengan penumpang. Karena menurut penumpang tarif yang dipatok terlalu mahal. Tetapi, lanjut legislator PPP ini, jika tidak menaikkan tarif, supir Angkot ini tekor nomboki uang setoran. Sementara penumpang Angkot sekarang jauh berbeda dengan sekitar lima tahun yang lalau, masyarakat masih jarang memiliki kendaraan pribadi, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. “Satu rumah saja bisa tiga sampai lima unit motor, masing – masing anak kendaraan nya sendiri – sendiri,” katanya. Situasi seperti ini memang menjepit posisi supir Angkot, BBM langka, jumlah penumpang turun drastis. Karenanya dia mengakui, jika tidak pintar – pintar, supir Angkot ini banyak yang tak lagi narik Angkot. Karenanya dirinya juga memaklumi kondisi supir ini. Sebab bagaimana pun juga, kalau kondisi BBM lancar, para sopir ini tidak akan menaikkan tarif tanpa harus menunggu signal dari dinas instansi terkait. Oleh sebab itu dia menyatakan setuju, jika sopir Angkot ini mendapat prioritas antrean BBM di SPBU. Pasalnya, pendapatan tak seberapa, resiko menanggung uang setoran dan memikul beban kularga sangat berat. “ Kalau BBM sudah lancar, Insya Allah tarif kembali normal, termasuk tarif angkutan antar kota dalam provensi, yang sejak beberapa blan terkhir ini mengalami kenaikan,” tutur nya. roz
|