Sejarah Kukar dan Kutai Lama Tak Bisa Dipisahkan

2011-07-15 00:37:53

2011-07-15  00:47:20

TENGGARONG, Sekkab Kukar yang juga Menteri Sekretaris Keraton HAPM Haryanto Bachroel di hadapan para peserta para budayawan, seniman dan peserta lainnya menjelaskan ada tiga budaya di Kaltim, pertama di wilayah pantai dimana di wilayah tersebut terpengaruh oleh Agama Islam seperti timbulnya seni Tingkilan, Rudat, Samrah dan lainnya. Kemudian ke tengah, itu budaya Kerajaan Melayu yang di dalamnya ada budaya dayak.
"Jadi Kutai tidak identik dengan dayak. Orang pusat kalau bilang Kutai pasti dayak itu jauh bedanya, Kutai adalah budaya Kerajaan Melayu," kata Bachroel.
Haryanto Bachroel menegaskan hal itu pada acara seminar budaya dengan tema "Budaya Kutai sebagai benang merah sejarah dalam merajut persatuan dan kesatuan bangsa untuk menuju masyarakat yang berbudaya yang resmi dibuka Wakil Bupati Kukar HM Ghufron Yusuf Sabtu (9/7) lalu di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Seminar dalam suasana Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai tersebut menghadirkan Prof Dr Edi Sedyawati Komunitas Budaya Indonesia.
Kalau kita berbicara budaya, lanjut Haryanto Bachroel kita tonjolkan dayak itu induknya ada di Kutai Barat melainkan kita tonjolkan budaya Melayu Kutai Kartanegara.
Lanjut Bachroel, menurut sejarah, Kutai berdiri sekitar abad ke-2, Kutai Martadipura itu didirikan oleh Kudungga, kemudian anak Kudungga namanya Aswawarman raja ke-2 yang melahirkan tiga putera, satu Sang Mulawarman di abad ke-4 sangat terkenal dengan menghadiahkan 20 ribu ekor sapi. Kemudian, lanjut Bachroel lagi, dua saudara yang lain setelah dia pelajari ternyata yang satu namanya Purnawarman itu mendirikan Kerajaan Tarumanegara di daerah Jawa Barat, sedangkan Adiciauwarman yang ingin dia (Bachroel, red) kunjungi nanti ternyata dia (Adiciauwarman) berada di Pangaruyung Sumatera Barat, di sana ada prasastinya, yang konon melahirkan raja-raja Sriwijaya yang pengaruhnya sampai ke Kamboja dengan Dinastiawan.
"Kita merupakan raja pertama dan diabad ke-13 berdiri Kerajaan Kutai Kartanegara dengan tiga tahap, pertama Aji batara Agung Dewa Sakti, dimana Kerajaan Kutai Kartanegara pada abad ke 16 Tunggang parangan masuk Agama Islam sehingga Kerajaan Kutai menjadi kerajaan Islam setelah dari Hindu," katanya.
Kemudian, lanjut dia, baru pada abad ke-17 setelah peperangan antara Kutai Kartanegara dengan Kutai Martadipura, dan Martadipura kalah dalam peperangan dan bergabung dengan Kerajaan Kutai Kartanegara dan berubah menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura. "Jadi ada tiga tahap sekarang sejak di kutai Lama pindah ke Jembayan dan sekarang pindah di Ibu kota Tenggarong. Inilah sejarah budaya Kutai Kartanegara sehingga jangkauan suku-suku zaman dulu sudah ada," jelasnya.
Dengan demikian ditegaskan Haryanto Bachroel, jangan coba-coba pisahkan Kutai dengan Kutai Lama. "Kalau kita tidak mau ikut kearifan budaya lokal silahkan cari daerah lain, sekali lagi jangan pisahkan Kukar dengan Kutai Lama karna kaitatan sejarahnya cukup erat. Saya sangat menyambut baik seminar budaya merajut persatuan dan kesatuan bangsa. Dan tolong diingat sejarah telah membuktikan bahwa siapa-siapa yang tidak mempertahankan adat atau durhaka dengan tanah Kutai maka ia akan dihukum," pungkasnya. yd

Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

Senin 27 Oktober 2014
Senin 27 Oktober 2014
New User Login




Video News
To watch this video, you need the latest Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Iklan...
Raih sukses didepan mata
Media promosi online poskota kaltim.com sarana terpercaya untuk mempromosikan usaha anda dalam sekejap akan dilihat oleh dunia

Ucapan Terima Kasih
Segenap Pimpinan dan Seluruh Staff Atas kepercayaan Anda Membuka WebSite Kami

Hotline
Editorial
Solusi
Surat Pembaca
Polling
Berita apa saja yang menurut anda sangat diminati pembaca poskotakaltim
Daerah
pariwisata
hukum
Pendidikan
perekonomian
semua berita
 
total pemilih : 2481 | Lihat Hasil
Pasang iklan anda disini...