Tugas Distan Tingkatkan ProduksiKuncinya di Petani Sebagai Pelaku Utama
2011-07-22 11:03:45
MEMILIKI potensi sumberdaya pertanian khususnya tanaman pangan merupakan hal yang patut dibanggakan masyarakat Kutai Kartanegara. Lahan yang tersedia diyakini mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat petani jika diolah dengan baik dan benar. Namun untuk mencapai semua itu, perlu adanya kerjasama yang terkoordinasi antar instansi terkait, terlebih petani selaku pelaku utama yang paling menentukan sebuah keberhasilan pertanian. Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Distan) sebagai instansi yang bersentuhan langsung dengan kegiatan petani memiliki peran yang sangat penting, khususnya dalam rangka pembinaan, baik dalam hal peningkatan sumberdaya petani maupun sistem pertanian tanaman pangan berteknologi, sehingga terjadinya peningkatan produksi. Penerapan teknologi pertanian penting dalam upaya peningkatan produksi. Baik itu dengan intensifikasi produktivitas maupun melalui pengembangan lahan dengan program percetakan sawah baru. Dalam hal ini, Distan sangat berperan khususnya bidang teknis, mulai dari pra penanaman (penggarapan lahan), sistem pemeliharaan atau perlakuan tanaman untuk angka produksi hingga penanganan pasca panen untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Yang jelas, apapun itu yang berkaitan dengan peningkatan produksi serta kualitas hasil panen merupakan tugas dari Distan. Karena tugas utama Distan adalah meningkatkan produksi melalui segala cara, tentunya tetap memperhatikan lingkungan. Seperti diakui Kepala Distan Kukar, Sumarlan J SP MP, Dinas Pertanian mengemban tugas untuk meningkatkan produksi sebesar mungkin, tentunya melalui teknologi-teknologi pertanian yang sedang berkembang, bahkan berupaya menciptakan teknologi baru yang mengarah pada peningkatan produksi serta kualitas yang bisa bersaing. Namun demikian, kata Sumarlan, pada dasarnya dinas hanya sebatas meningkatkan produksi, sedangkan untuk proses selanjutnya adalah bagaimana komitmen petani itu sendiri selaku pelaku utama. Demikian pula dengan instansi terkait lainnya yang berhubungan dengan pasar, agar produksi yang dihasilkan dapat menguntungkan pada sektor ekonomi. Atau dalam artian, hasil pertanian tersebut dapat dijadikan uang, yang ujungnya adalah meningkatnya ekonomi masyarakat petani. Hal itu dijelaskan Sumarlan terkait konsekuensi dari peningkatan produksi yang mungkin akan melimpah, yang bisa saja akan menimbulkan kerugian bagi petani, karena selain harga bisa anjlok, bahkan mungkin saja menjadi tidak bernilai karena tak terjual. Jadi, apapun upaya yang dilakukan dinas dalam meningkatkan produksi, kuncinya ada di petani selaku pelaku utama. Dan untuk market, ada instansi terkait yang menangani. Dinas sendiri menurut Sumarlan tidak melepas begitu saja, tapi tetap berupaya memberikan pembinaan terhadap petani dengan pelatihan manajemen usaha tani. Petani diharapkan bisa membaca peluang pasar dengan perhitungan terhadap jenis komoditi yang ditanam pada musim tertentu. Dikatakan, petani mesti berusaha menjadi petani yang mandiri. Pasalnya, usaha bidang pertanian khususnya tanaman oangan tidak sama dengan usaha pertanian lainnya, seperti perkebunan, peternakan atau perikanan yang mendapat lirikan dari sejumlah pengusaha. Sangat sulit mencari pengusaha yang mau berinvestasi pada pertanian tanaman pangan, sehingga untuk menjadi petani yang berhasil, petani harus berusaha sendiri agar bisa menjadi pengusaha di bidangnya. Sejauh ini diakui, memang sulit melihat atau mendengar ada petani yang merasa bangga sebagai petani, terutama petani tanaman pangan khususnya di Kukar. Itu dikarenakan petani belum berhasil menjadi pengusaha yang patut menjadi contoh bahwa petani juga bisa menjadi kaya dengan usaha tani yang digelutinya. Saat ini, pihak dinas sedang berupaya memotivasi petani binaannya agar dapat mengusungkan dada, menunjukan kebanggaannya sebagai petani. Dan komitmen itu dilakukan dengan berbagai program sesuai dengan visi dan misi Gerbang Raja, menuju masyarakat petani yang sejahtera. adv
|