Tiga Strategi Tingkatkan Produksi dan Kualitas Padi 20112011-08-12 07:24:12
KETERSEDIAAN pangan merupakan program nasional yang dipandang penting bagi negara tidak terkecuali Indonesia dan dalam hal ini, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono telah mengumandangkan program ketahanan pangan agar menjadi program prioritas pemerintah daerah. Bahkan untuk memotivasi, pemerintah pusat mengalokasikan dana APBN untuk pembangunan dan pengembangan pertanian ke masing-masing daerah, terlebih daerah yang memiliki potensi besar sektor pertanian. Presiden juga memberikan penghargaan bagi daerah yang mampu meningkatkan produksi pangan khususnya padi sebesar 5 persen pertahun. Bagi Pemkab Kutai Kartanegara yang memang menempatkan program pertanian pada skala prioritas dalam pembangunan daerah sebagaimana tertuang dalam program Gerakan Pembangunan Rakyat Sejahtera (Gerbang Raja), meningkatkan produksi padi merupakan keharusan, setidaknya harus bisa mempertahankan penghargaan Presiden yang pernah didapat atas peningkatan produksi padi yang labih dari 11 persen. Untuk peningkatan produksi padi tahun 2011, Kabid Produksi dan Pasca Panen Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kukar, Suyanto mengatakan telah melakukan strategi yang diyakini mampu meningkatkan produksi padi. Menurut Suyanto, ada tiga strategi yang kini sedang dijalankan, yakni penyediaan bibit unggul bagi petani, penyediaan pupuk serta keamanan pasca panen. Ketiga strategi ini akan menjadi penentu meningkatnya produksi padi petani selain adanya program perluasan areal tanam melalui percetakan lahan sawah baru. Menurut Suyanto, tiga strategi ini hasilnya akan komplek, yakni didapatkannya hasil produksi dengan kuantitas serta kualitas yang tinggi. Dijelaskan, untuk penyediaan bibit unggul dipandang penting dalam rangka memperoleh kualitas hasil produksi yang baik. Tentunya untuk produktifitasnya dibutuhkan ketersediaan pupuk yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman dalam rangka memberikan perlakuan terhadap tanaman dengan pupuk berimbang dan terkahir adalah keamanan panen, dimana dalam hal ini penyediaan sarana pasca panen disediakan, terutama alat perontok padi (power threser) yang dianggap sangat penting dalam rangka mempertahankan kualitas produksi. Untuk penanganan pasca panen ini diakui sejauh ini cukup terkendala, dimana masih ditemukan banyak petani yang terlalu lama membiarkan gabah yang sudah dipanen menumpuk di pematang sawah, tidak segera diangkut untuk selanjutnya dirontok. "Memang kita akui kenyataan di lapangan masih banyak petani yang kurang memperhatikan keamanan panen. Padahal titik terakhir dalam upaya mempertahankan kualitas produksi adalah saat panen dan pasca panen," kata Suyanto. Petani diimbau untuk tidak terlalu terlena atas hasil produksi yang meningkat sehingga melupakan betapa pentingnya keamanan panen dan penanganan pacsa panen dalam rangka mempertahankan kualitas produksi. Mengenai penumpukan gabah terlalu lama di pematang, menurut informasi yang diterima Suyanto di lapangan adalah dikeranakan petani harus menunggu giliran pemakaian power threser. Itu disebabkan adanya kesalahan sistem dalam pengelolaan power threser yang dipegang ketua kelompok tani. Penggunaan power threser yang bersifat individu masih banyak terjadi pada alat perontok padi yang diperuntukan untuk seluruh anggota kelompok tersebut, sehingga kesalahan itu bisa menimbulkan atau berakibat fatal, yakni penurunan kualitas padi bahkan penurunan jumlah produksi, karena bulir padi sempat rontok di pematang, dan tentunya padi yang rontok sendiri itu adalah gabah yang masaknya paling sempurna ditangkainya dan tentunya itu adalah kualitas terbaik. "Kan sangat rugi jika buah padi yang paling berkualitas itu sebagian rontok di pematang dan terbuang begitu saja. Upaya sejak penggarapan, pemeliharaan hingga panen jadi sedikit sia-sia karena ketidakamanan panen," ujar Suyanto. Lanjut Suyanto, permasalahan utamanya menurut petani ada pada power threser yang harus diantre. Padahal menurut Suyanto, jikia sistem pengelolaannya benar, ketersediaan power threser dilapangan cukup untuk memenuhi kebutuhan petani. "Berdasarkan data inventarisir, saat ini terdapat 798 unit power threser yang tersebar di 18 kecamatan dan itu semua dalam kondisi baik atau bisa beroperasi. Penempatannya juga disesuaikan luasan lahan dimana unit terbanyak tentunya ada pada sentra-sentra padi. Jadi, sebenarnya jumlah unit itu cukup jika pengelolaannya baik dan benar," ungkap Suyanto. Mengenai power threser, Suyanto mengatakan bahwa seharusnya tiap kelompok tani bisa mengembangkan atau menjadikan power threser yang dimiliki itu sebagai usaha kelompok melalui sistem sewa misalnya. Jadi hasilnya selain untuk biaya operasional dan pemeliharaan, sisanya bisa dumasukan kas kelompok, sehingga ketika uang kas sudah mencukupi bisa dibelikan power threser untuk tambahan di kelompok itu sendiri. "Jika sistem usaha kelompok seperti itu bisa berjalan dengan baik, tentunya kelompok tani akan bisa mandiri. Artinya, alat yang ada bukan malah hilang karena rusak tapi sebaliknya bertambah dan itulah yang diharapkan pemerintah saat memberikan bantuan alat pertanian tersebut," papar Suyanto. Untuk itu, lanjut Suyanto pihaknya akan terus memberikan pengertian kepada kelompok tani sehingga bisa memahami dan memanfaatkan sebaik mungkin sarana yang dibantukan untuk kemajuan kelompok masing-masing. (adv)
|