H-7 Terminal Bus Masih Lengang2011-08-24 08:21:52
SAMARINDA, H-7 jelang lebaran, sejumlah terminal bus antar kota dalam propinsi masih terlihat lengang. Dua terminal bus antar kota dalam propinsi di Samarinda yakni terminal Bus Sungai Kunjang dan Terminal Lempake belum terlihat peningkatan jumlah penumpang. Hal ini terlihat saat tim Pemkot Samarinda dipimpin Zulfakar Assisten II Pemkot Samarinda meninjau kesiapan armada angkutan mudik di beberapa terminal di Samarinda, Selasa (23/8). Kepala Dinas Perhubungan kota Samarinda Suko Sunawar yang mendampingi Assisten II Pemkot Samarinda mengatakan bahwa sepinya terminal bukan karena tidak adanya arus mudik. "Terminal sepi memang karena belum waktunya libur, secara umum aktifitas di terminal masih sama seperti biasa termasuk jumlah keberangkatan bus," kata Suko. Saat ini lanjutnya, khusus menjelang angkutan mudik 2011 ada sekitar 479 unit bus antar kota disiapkan sejumlah 86 Badan Usaha Angkutan/PO. Selain itu, kata dia, untuk menunjang kegiatan saat lebaran di kota Samarinda telah ada sekitar 1.524 unit kendaraan penumpang termasuk taksi dalam kota. Untuk angkutan udara melalui Bandara Temindung masih terlihat normal. Beberapa maskapai yang melayani rute Samarinda hingga saat ini belum melaporkan adanya penambahan penerbangan keluar dari Bandara Samarinda. Khusus angkutan laut, untuk menghindari kejadiaan yang menyebabkan pemindahan penumpang Minggu lalu, Pemkot terus melakukan pengawasan dan meminta Adpel tetap bersikap tegas tidak memberangkatkan kapal yang menyalahi aturan keselamatan. "Arus Mudik akan terjadi pada tanggal 24 dan 28 Agustus. Pemkot telah dilakukan ansipasi berupa pemantauan jumlah penumpang untuk tetap menjaga keselamatan pelayaran," kata Suko. Suko juga menegaskan untuk arus mudik tahun 2011 tidak ada kenaikan tarif (tuslaq) dan jadwal. Untuk angkutan jalan dan angkutan laut/ sungai tarif berlaku normal, kecuali pada angkutan udara berlaku tarif atas. KALAH BERSAING Sementara itu Adi supir Bus Trans Kaltim mengaku sepinya penumpang yang datang ke terminal bus karena banyaknya kendaraan plat hitam yang beroperasi. Kalau dulu, kata dia, kendaraan plat hitam berfungsi untuk mengantarkan penumpang dengan sistem carteran. Saat ini berbeda, pengemudi plat hitam juga menjadi angkutan omprengan. "Dulu mereka hanya melayani cateran, sekarang mereka juga menjadi angkutan omprengan juga setiap penumpang dimintai Rp25 ribu atau selisih Rp4000 dari ongkos naik Bus," kata Adi. Ironisnya, kata dia, hal itu tidak ditindak pemerintah. Jika pengusaha bus harus membayar berbagai biaya untuk bisa beroperasi, Sementara pengemudi plat hitam tidak memiliki kewajiban membayar apa-apa," kata Adi. M4n
|