12 Tahun Lagi Minyak Bumi Akan Habis2011-09-26 01:38:52
Balikpapan, Masa depan energi Indonesia tidak dapat lagi bertumpu pada produksi minyak. Gas bumi yang merupakan energi bersih akan menjadi tumpuan bangsa ini ke depan dalam hal pendapatan bagi negara maupun ketahanan energi nasional. Hal tersebut dapat terlihat dari fakta cadangan gas yang ditemukan lebih besar ketimbang cadangan minyak yang ditemukan. Tidak mengherankan apabila sejumlah proyek besar dalam lima tahun mendatang didominasi oleh gas. Sepanjang tahun 2010 terdapat penemuan cadangan gas baru yang cukup signifikan mencapai 2,09 triliun kaki kubik, sementara penemuan minyak hanya sebesar 140 juta barel saja. Status pada 1 Januari 2011, posisi cadangan terbukti maupun potensial gas di Indonesia mencapai 153,72 triliun kaki kubik dan cadangan terbukti maupun potensial minyak bumi sebesar 7,41 miliar barel. Apabila cadangan yang ada diproduksikan dengan tingkat produksi saat ini, maka cadangan minyak bumi Indonesia akan habis selama 12 tahun mendatang. Sementara cadangan gas bumi Indonesia masih mampu bertahan untuk memenuhi kebutuhan hingga 46 tahun kedepan. Selain itu, sejumlah proyek besar di industri hulu migas yang mulai dikembangkan di periode 2011 hingga 2014 ternyata didominasi oleh proyek pengembangan gas dibandingkan oleh proyek pengembangan minyak bumi. Era black gold has ended, rasanya kutipan itu sangatlah tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi di Indonesia saat ini. Masa keemasan produksi minyak yang berlimpah di negeri ini sudah berakhir. Bukan berarti menghentikan mimpi untuk meningkatkan produksi minyak hingga melampaui puncak produksi di masa lalu, namun berfikir lebih realistis dan bersandar pada fakta akan menjadi pilihan yang lebih baik agar Indonesia sebagai bangsa benar-benar menghemat penggunaan bahan bakar atau sumber energi yang tidak tergantikan ini. Puncak produksi minyak di Indonesia terjadi di tahun 1977 yang mencapai 1,65 juta barel per hari, kemudian terus menurun sejalan dengan natural decline. Berbagai upaya telah dilakukan termasuk menerapkan teknologi enhanced oil recovery. Penurunan produksi yang normalnya mencapai 12 persen setiap tahun, dapat ditekan menjadi hanya tiga persen. Usaha ini merupakan usaha yang luar biasa yang berhasil dicapai berkat kerja keras Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BPMIGAS) dan kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKS) Tentunya berbagai upaya akan terus dilakukan untuk terus menekan laju penurunan produksi, bahkan harapan untuk dapat meningkatkan produksi masih sangat terbuka dengan adanya proyek pengembangan lapangan Banyu Urip, blok Cepu yang puncak produksinya bisa mencapai 165.000 barel per hari. Jika menggunakan asumsi tersebut maka diperkirakan pada tahun 2014, produksi minyak Indonesia bisa menembus 1 juta barel per hari. Namun, selain pengembangan lapangan Banyu Urip, blok Cepu yang mampu memproduksi minyak dalam jumlah diatas 100.000 barel per hari, nyaris tidak ada lagi proyek pengembangan lapangan minyak yang jumlah produksinya signifikan. Hal ini mengingat selama 10 tahun terakhir belum ditemukan cadangan minyak dalam skala besar. 10 Proyek Hasilkan 1,74 Miliar Kaki Kubik Gas Per-Hari, Berdasarkan data sepuluh proyek pengembangan lapangan minyak dan gas yang sedang digarap oleh BPMIGAS dan kontraktor KKS, diluar blok Cepu, terlihat bahwa proyek pengembangan minyak bumi sangat minoritas. Proyek-proyek terbesar ini didominasi oleh pengembangan lapangan gas. Dari total sepuluh proyek senilai US$ 4,7 miliar tersebut sebanyak sembilan proyek adalah proyek pengembangan gas, antara lain Madura BD yang dikelola Husky Oil Madura, Terang Sirasun Batur yang dikelola kangean Energi Indonesia, dan Gajah Baru yang dikelola Premier Oil Natuna (lihat tabel: 10 Proyek Terbesar).Hanya ada satu proyek pengembangan lapangan minyak bumi dan gas yaitu proyek pengembangan Ujung Pangkah yang dikelola oleh Hess Indonesia Pangkah. Dalam kurun waktu 2011 hingga 2014,kapasitas disain produksi kesepuluh proyek tersebut mencapai 1,74 miliar kaki kubik per hari, produksi minyak sebesar 20.000 barel per hari serta kondensat sebanyak 26.000 barel per hari. Tidak hanya tahap pengembangan, dalam kegiatan eksplorasi, cadangan besar yang berhasil diketemukan umumnya cadangan gas. Misalnya, proyek Masela di Laut Arafura dengan operator Inpex, kemudian Genting Oil di Blok Kasuri, Papua Barat, dan Blok Natuna Timur, di Kepulauan Riau. Menurut Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BPMIGAS Gde Pradnyana, fakta ini seharusnya membuat kita menyadari masa depan energi Indonesia adalah gas, tidak lagi minyak. “Indonesia harus menghentikan ketergantungan kita terhadap minyak,” katanya. Dia mengatakan, perubahan paradigma perlu dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi bangsa Indonesia. Tidak mungkin lagi bergantung kepada minyak bumi yang semakin hari semakin menipis cadangannya dan produksinya. Indonesia, kata dia, sudah saatnya mempersiapkan berbagai infrastruktur untuk memanfaatkan melimpahnya pasokan gas di masa mendatang untuk menggantikan konsumsi minyak, termasuk juga mencoba mencari alternatif pendapatan negara lainnya karena hingga saat ini pendapatan dari minyak masih dianggap salah satu tulang punggung APBN. Stop Memanjakan Diri Dengan Harga Energi Murah Pelajaran berharga yang patut dipetik dari masa lalu adalah, jangan lagi memanjakan diri dan bergantung terhadap harga energi yang murah. Sebab harga minyak murah yang dinikmati sejak dulu, saat produksi minyak melimpah, menjadikan kesulitan di saat ini. Ketika harga minyak tinggi dan produksi menurun ketergantungan terhadap harga minyak murah membuat anggaran Negara tersedot hanya untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Pelajaran berharga ini seharusnya membuat pemerintah hati-hati menetapkan harga energi yang murah, sebab akan terjadi pemborosan dan kurangnya efisiensi pemanfaatan energi. “Masyarakat menjadi tidak menghargai energi sebagai sesuatu yang sangat mahal dan perlu dilakukan konservasi,” kata Gde. Harga gas alam yang sangat murah saat ini di dalam negeri merupakan satu peringatan awal akan bahayanya penggunaan gas alam secara tidak efisien dan pemanfaatan gas alam yang tidak maksimal. Harga gas alam yang murah ini juga dapat mengancam terhentinya eksplorasi pencarian cadangan gas baru yang pada akhirnya akan mengakibatkan produksi gas alam akan menurun seperti yang terjadi pada kasus produksi minyak. Jangan sampai apa yang dialami dengan produksi minyak terjadi lagi pada produksi gas. Seluruh pemangku kepentingan harus menjaga agar produksi gas dapat berkesinambungan sejalan dengan eksplorasi yang harus terus dilakukan guna meningkatkan cadangan gas. “Sehingga umur produksi gas dapat diperpanjang lebih dari 46 tahun,” katanya. Upaya pengembangan gas unkonvensional seperti Coal Bed Methane (CBM) juga bisa membantu meningkatkan cadangan gas nasional. Namun sekali lagi, jangan diulangi menetapkan harga murah untuk energi yang tidak tergantikan karena kita tidak ingin masa lalu terulang kembali di masa depan.syah
|