Aparat Keamanan Diimbau Perketat Pengamanan Tempat Ibadah SAMARINDA, Wakil Ketua DPRD Kaltim asal Partai Demokrat, Yahya Anja, mengimbau aparat keamanan memperketat pengamanan tempat ibadah, khususnya gereja dan masjid yang seringkali menjadi sasaran teror. "Anggota TNI dan Polri saya imbau memperketat pengamanan tempat-tempat ibadah, khususnya gereja dan masjid yang seringkali menjadi sasaran teror orang tak bertanggung jawab. Pengetatan pengamanan juga bisa dilakukan oleh satuan pengamanan tempat ibadah sendiri, maupun oleh elemen masyarakat, seperti anggota Banser NU," kata Yahya Anja, Minggu (2/10) kemarin, menanggapi kasus bom bunuh diri di sebuah gereja di Solo, Jawa Tengah. Aksi bom bunuh diri terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah, sekitar pukul 10.55 WIB, Minggu (25/9) lalu, usai pelaksanaan misa. Pelakunya yang diidentifikasi bernama Tino Damayanto alias Ahmad Urip alias Ahmad Yosepa Hayat, tewas tergeletak di depan pintu masuk rumah ibadah tersebut dengan bagian perut hancur. Sebelumnya, aksi bom bunuh diri terjadi di masjid yang berada di areal markas Kepolisian Resor Cirebon, Jawa Barat, Jumat (15/4) silam. Ledakan terjadi sesaat sebelum jemaah yang memadati masjid memasuki rakaat pertama ibadah shalat Jumat. Pelakunya diketahui bernama Muhammad Syarif. "Kami juga mengimbau masyarakat luas segera menyampaikan laporan kepada aparat keamanan apabila menemukan gelagat oknum maupun kelompok yang mencurigakan," kata mantan Sekretaris DPD Partai Demokrat Kaltim ini. Politisi asal Dapil I Samarinda ini juga mengimbau kepada pemerintah, khususnya Kementrian Kominfo untuk segera memblokir situs-situs yang berhubungan dengan gerakan radikalisme, karena bertentangan dengan Undang-undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dia mengetahui dari 900 situs yang diadukan masyarakat, sebanyak 300 di antaranya telah diblokir oleh Kementrian Kominfo. "Kementrian Kominfo harus terus menerus melakukan kajian, mana-mana situs yang berhubungan dengan gerakan radikalisme harus cepat diblokir. Jangan sampai masyarakat, khususnya generasi muda kita, terpengaruh," kata politikus kelahiran Tabalong, 7 Mei 1968 ini. Yanya Anja juga mengingatkan masyarakat terus waspada terhadap aksi teroris, mengingat sudah terbukti provinsi ini menjadi tempat pelarian pelaku teror, seperti teroris pelaku bom Bali, Ali Imron dan Mubarok yang ditangkap di Tanjung Berukang, Kutai Kartanegara, 13 Januari 2003 lampau. Selain itu, juga dua orang terduga teroris, yakni Faisal (30) dan Yuadri (49), yang diciduk tim Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri di Jalan Mulawarman No. 17 RT 9/RW 4, Desa Loa Duri, Kutai Kartanegara, Kaltim, 11 Juni 2011 lalu. "Artinya Kaltim yang kondusif ini juga bisa menjadi sasaran teror, makanya kita semua harus terus menerus waspada dan menjaga kekompakan dalam melawan tindakan radikalisme," kata Sekretaris Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) DPD Partai Demokrat Kaltim ini. hms/adv
|