TNI dan Rakyat Siap Jaga Perbatasan2011-10-12 02:53:55
SAMARINDA, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan rakyat siap menjaga perbatasan dan tidak akan menyerahkan sejengkal wilayah perbatasan kepada negara tetangga. Kuncinya adalah masyarakat dan TNI saling bahu membahu menjaga perbatasan, dan itu dukungan dan perhatian dari pemerintah sangatlah dibutuhkan. "Kehadirin TNI dan masyarakat di perbatasan saat ini sudah cukup untuk menjaga wilayah Indonesia," kata Kepala staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo usai membuka pelaksanaan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-87 yang dipusatkan di Kampung Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat, Senin (10/10) lalu. Adik Ipar Presiden SBY ini menjamin sepanjang wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia tetap aman. "Sampai saat ini kami menganggap tidak ada hal-hal yang menjadi perhatian khusus kecuali kami tetap menjaga dan menempatkan personel di wilayah perbatasan agar tetap menjadi milik kita untuk menjamin tetap utuhnya wilayah kesatuan Republik Indonesia," katanya. Terkait masalah "pencaplokan" wilayah Desa Camar Wulan dan Desa Tanjung Datu, Kabupaten Sambas Kalimantan Barat oleh Malaysia, Pramono Edhie Wibowo membantahnya, Jenderal Bintang empat itu mengaku bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait isu tersebut. "Namanya isu belum pasti benar, namun sebagai negara yang besar kita harus menanggapi hal ini dengan cara duduk bersama, bicarakan bersama dan jangan hadapi dengan emosi karena kita belum tahu siapa benar dan yang salah," tegasnya. Adanya ketegangan di wilayah perbatasan Pramono mengaku bahwa TNI belum melakukan penambahan pasukan, namun seluruh anggota TNI khususnya TNI AD siap menjaga perbatasan kapan pun diperlukan. "Kehadirin TNI dan masyarakat di perbatasan saat ini sudah cukup untuk menjaga wilayah Indonesia," tegas Edhi. Sementara untuk pembukaan kawasan di perbatasan dan pembangunan di daerah itu, Kasad TNI mengaku siap mengerahkan anggota TNI untuk melakukan pembangunan bandara dikawasan perbatasan agar dapat didarati pesawat berbadan besar seperti Hercules. "Hal ini sangat baik sehingga kawasan perbatasan akan mudah diawasi, dan kawasan perbatasan akan terbuka tidak saja karean keberadaan anggota TNI namun majunya perekonomian masyarakat di perbatasan akan mampu menjaga kawasan perbatasan," kata Edhi. Sebelumnya Pemprov Kaltim akan membangun bandara baru, pengganti bandara Mlalan di Kabupaten Kutai Barat. Bandara ini akan dibangun dengan spesifikasi lebih besar agar pesawat TNI bisa mendarat di salah satu daerah perbatasan RI-Malaysia ini. Dalam perbincangan lisan dengan gubernur Kaltim barusan lanjut Edhi bahwa pembangunan bandara pengganti akan terealisasi pada akhir 2013 dan pembangunanya sudah mulai dilakukan. Sebelumnya saat ini pemerintah Propinsi Kaltim telah menawarkan tiga alternatif lokasi pembangunannya di Kabupaten Kutai Barat. "Setidaknya pesawat tempur TNI AU bisa mendarat di sana," kata Awang Faroek, beberapa waktu lalu. Menurutnya, panjang landasan pacu yang akan dibangun nantinya adalah 2000 meter. Tapi panjang lahan yang disiapkan mencapai 3000 meter. Ia mengungkapkan, pembangunan Bandara Mlalan yang saat ini digunakan penerbangan perintis sudah tidak bisa lagi ditingkatkan. Pasalnya lokasi bandara berada di tengah pemukiman warga. "Yang pasti, bandara baru harus di luar kota," katanya. Pembangunan bandara ini menurutnya memiliki dua aspek strategis. Selain untuk kepentingan penerbangan umum, TNI juga bisa memanfaatkan untuk pertahanan negara, khususnya di perbatasan RI-Malaysia. Provinsi Kalimantan Timur memiliki garis perbatasan negara RI_- Malaysia sepanjang 1.038 kilometer. Garis perbatasan ini membentang mulai dari Kabupaten Nunukan, Malinau dan Kutai Barat. M4n
|