Penyakit Difteri Harus Diantisipasi2011-10-13 18:50:16
TANJUNG REDEB, Wabah penyakit Difteri yang menewaskan 11 balita di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat, termasuk dari anggota DPRD Berau. Karena itu Ketua Komisi I DPRD Berau Ir Burhan mengimbau kepada Dinas Kesehatan segera melakukan antisipasi, sebelum penyakit yang mematikan itu menyerang Kabupaten Berau. Kata Burhan, apa yang diinformasikan sejumlah media massa, baik media cetak maupun media elektronik kemarin cukup mengejutkan bagi semua pihak. Betapa tidak, penyakit yang merenggut nyawa 11 anak – anak itu terbilang tidak membutuhkan waktu lama menyerang korbannya. Bisa dibayangkan, dalam hitungan satu bulan saja ratusan balita harus dirawat inap di sejumlah rumah sakit, dan 11 balita diantaranya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Karena daya tahan tubuhnya tak mampu memerangi penyakit yang bisa membuat orang tua kehilangan nyawa balitanya. Yang mengejutkan lagi, kata politisi PPP ini, penyakit yang kerap menyerang balita ini tergolong penyakit menular, sehingga perkembangan penyakit ini dari waktu ke waktu berkembang pesat. Menurut informasi yang dia peroleh, yang membuat balita tidak tahan ketika terserang penyakit itu, dikarenakan penyakit yang menakutkan para orang tua ini mampu menyumbat aliran darah, dan menyumbat saluran pembuangan. Jadi, si penderita ini bisa mengalami sesak nafas, dan detak jantungnya bisa berhenti. “Orang tua mana yang tidak takut dengan penyakit Difteri ini,” katanya. Kartena itu, mantan Ketua KNPI Kabupaten Berau ini menyarankan kepada Dinkes untuk melakukan langkah – langkah yang kongkrit, salah satunya melakukan pencegahan sebelum penyakit yang menjadi momok semua orang tua itu menyerang ke Kabupaten Berau. Baik dengan cara melakukan sosialisasi, maupun melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Karena bukan tidak mungkin penyakit yang menular melalui udara itu menyerang Kabupaten Berau. "Ibarat pepatah, sedia payung sebelum turun hujan. Lebih baik mencegah dari pada mengobati ,” pungkasnya. roz
|