Media Masih Terbentur "Tembok Besar" Investigasi Narkoba2011-10-14 15:49:28
SAMARINDA, Pers sebagai pilar ke empat demokrasi dalam menyukseskan Program Pencegahan Pemberantasan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia saat ini masih mendapat hambatan. Wartawan yang bertugas meliput pemberitaan media pers di lapangan kerap mendapat ancaman-ancaman, mematikan karirnya dan mengorbankan jiwa. Bahkan liputan persoalan narkoba tak pernah tuntas ini karena diibaratkan wartawan menghadapi "tembok besar" dimana semua pihak terlibat masalah obat terlarang enggan terbuka seperti korban dan keluarganya serta aparat penegak hukum. Demikian hal ini disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh SH menjadi pembicara Forum Silaturahmi Media Massa di Hotel Grand Clarion Jl AP Pettarani Makassar, pekan lalu. "Kita buka-bukan disini. Adakah orangtuanya mau terbuka anaknya terlibat narkoba. Apalagi dibungkus adat istiadat, maka tidak ada pengedar dan pemakai narkoba dijelaskan oleh keluarga korban. Belum lagi kita meminta informasi ke kepolisian dan kejaksaan selalu menjelaskan cari-cari alasan seperti bilang masih dalam penyelidikan dan penyidikan," kata Zulkifli. Menurut Zulkifli, permasalahan narkoba cukup berat ketika, aparat penegakan hukum belum transparan dan satu visi dengan pers. Posisi pers akhirnya dilema ketika wartawan hendak menjadi garis terdepan memberantas narkoba karena mendapat ancaman jiwa di lapangan. "Contoh wartawan SCTV Zainuddin yang saya jenguk di rumah sakit Ibnu Sina. Dia memberitakan tetangganya cuma helat tiga rumah, kalau nggak salah bernama Fajar. Hingga (pelaku) ditahan polisi. Lalu, adiknya (pelaku) mengancam datangi Zainuddin yang keluar pakai sarung, gampang saja dihajar dengan badik yang masuk ke perut sampai tulang rusuk," ujar Zulkifli. "Sekarang pertanyaannya, adakah yang bertanggung jawab. Itukah pers. Itukah wartawan. Padahal dia garis terdepan pemberantasan narkoba," katanya. Zulkifli berharap Forum Silaturahmi Media Massa digelar BNN ini meningkatkan kerjasama dengan pers yang harus jelas langkah-langkahnya. Langkah pertama itu, pihak terkait seperti BNN dan polisi dapat kerjasama dengan media massa mewadahi wartawan yang bertugas di lapangan. "Karena terus terang, namanya wartawan, ada persaingan. Kalau ada kita mendapat informasi pengedar atau pemakai narkoba, lalu tidak puas konfirmasi dengan polisi dan jaksa. Maka, wartawan mengembangkan cara sendiri. Ini berbahaya. Tapi, kalau media yang akan menugaskan wartawan akan koordinasi dengan kepolisian tentang meliput narkoba," kata Zulkifli. aon
|