Singkong Gajah Dikembangkan di Muara KamanDirencanakan 1.750 Hektare di Rantau Hempang
2011-10-20 01:59:28
TENGGARONG, Menciptakan penganan beragam dengan memanfaatkan komoditi lokal merupakan upaya dalam rangka mewujudkan program ketahanan pangan. Di Kutai Kartanegara, singkong gajah merupakan salah satu komoditi lokal yang dipandang memiliki nilai ekonomi menjanjikan, apalagi dengan dibangunnya pabrik pengolahan tepung singkong berbahan dasar singkong gajah di Tenggarong Seberang. Dengan potensi lahan yang ada, direncanakan akan dilakukan pembukaan lahan untuk perkebunan singkong gajah seluas 1.750 hektare di Desa Rantau Hempang Kecamatan Muara Kaman. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Tanaman Tangan dan Hortikultura Kukar, Suyanto mengatakan, rencana pengembangan singkong gajah tersebut akan dilakukan pihak investor, yakni PT Tunas Sejati Abadi. Diharapkan, dengan pembukaan lahan perkebunan singkong gajah itu nantinya menjadi peluang serta motivasi petani mengembangkan komoditi yang terbilang baru di Kukar. Pasalnya, nantinya perusahaan tersebut akan membangun pabrik tepung singkong gajah sendiri, dan petani atau kelompok tani bisa memanfaatkan peluang tersebut, karena akan ada perusahaan yang menampung hasil kebun singkong gajah yang dikembangkan petani. Terkait pengembangan singkong gajah di Kukar, sekalipun terbilang komoditi baru, namun menurut Suyanto, saat ini sudah ada masyarakat yang mengembangkan singkong gajah di Kecamatan Kota Bangun. Luas lahan yang sudah ada dan dikelola warga Kota Bangun yakni Hasan Basri saat ini adalah 50 hektare. "Namun yang sudah tertanam dan sedang menunggu masa panen seluas 10 hektare," kata Suyanto. Menurut Suyanto, di sekitar lahan Hasan Basri sudah ada beberapa kelompok tani yang juga sedang menyiapkan lahan kebun singkong gajah, diantaranya kelompok tani Maju Bersama, Harapan Bersama, Gunung Puji, Harapan Jaya serta kelompok tani Ngeris Sloa yang semuanya berada di Kecamatan Kota Bangun. Ditambah 350 hektare lahan dengan sistem Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dijelaskan Suyanto, untuk kebun sistem KUR, rencana penyaluran kredit bagi kelompok tani itu dilakukan sistem kredit perbankan pola LPKD melalui Bankaltim (BPD). Penyaluran berdasarkan Rencana Usulan Kelompok (RUK), dimana tiap hektare akan mendapat bantuan senilai Rp40 juta. Tamun demikian, terkait bantuan pengembangan singkong gajah dimaksud, pihak dinas terlebih dahulu melakukan inventarisir di lapangan guna menentukan kelompok yang memenuhi syarat menerima bantuan. "Kita telah mengkoordinasikan ke Bappeda bahwa kita akan melakukan inventarisir dulu ke lapangan. Lokasi mana tempat pengembangan dan petani mana yang layak untuk mendapatkan bantuan," kata Suyanto. Selain itu, Suyanto juga mengatakan terlebih dahulu akan melakukan sosialisasi terhadap program pengembangan singkong gajah di lokasi yang ditetapkan, terutama sosialisasi terhadap pengelolaan dana bantuan yang diberikan. Tujuannya agar petani tidak salah dalam mengelola dananya sehingga usaha yang dikembangkan dapat sesuai harapan. Untuk diketahui, Pemkab Kukar berdasarkan data di Bappeda telah mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan pengembangan tanaman singkong gajah tahun anggaran 2011, dimana tiap petani akan mendapatkan bantuan senilai Rp 40 juta untuk pengembangan tanaman singkong gajah. Perlu juga diketahui, singkong gajah dimaksud bukanlah singkong gajah hitam yang untuk bahan dasar pembuatan ethanol yang merupakan bahan bakar diesel, tapi singkong gajah putih yang memang untuk bahan pembuatan tepung singkong. yd
|