Dinkes Berau Antisipasi Difteri2011-10-25 16:50:12
TANJUNG REDEB,Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Agustinus didampingi Eko Siswadi Kepala Bidang Penanganan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3L) menjelaskan, sejak wabah penyakit Difteri yang menewaskan 11 balita di Jawa Timur, khususnya di daerah Surabaya, Dinkes melakukan upaya pencegahan di sekolah – sekolah di Kabupaten Berau. “Kami sudah melakukan upaya itu secara bertahap, baik ditingkat PAUD, TK, SD dan SMP melalui pemberian obat berbentuk sirup Eddytrumisin, yang dewasa kami beri obat berbentuk tablet ,” ujar Eko. Untuk sementara ini Dinkes masih fokus di tingkat sekolah tersebut, mengingat penyakit itu cenderung menyerang anak - anak. Sebab bukan tidak mungkin penyakit itu datang ke Berau melalui penumpang pesawat yang dari Surabaya menuju Berau. Selain itu, lanjut Eko, sebelumnya ada salah satu warga Berau diduga terkena suspek Difteri, tetapi setelah dilakukan pengecekan melalui cara mengambil sample adarahnya, lalu dites di Dinkes Provinsi ternyata hasilnya negatif. Diakuinya, penyakit yang mematikan itu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, termasuk dari dari Pemkab Berau melalui Dinkes. "Karena itu, sejak kasus difteri ini mencuat, Dinkes langsung bereaksi melakukan antisipasi, sebelum penyakit yang menakutkan itu menyerang Kabupaten Berau," ungkap Agustinus. Bisa dibayangkan, dalam hitungan satu bulan saja di Jawa Timur ratusan balita harus dirawat inap di sejumlah rumah sakit, dan 11 balita diantaranya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Karena daya tahan tubuhnya tak mampu memerangi penyakit yang bisa membuat orang tua kehilangan nyawa balitanya. “Bahkan kabar terakhir yang kami terima, penyakit ini sudah menyerang daerah Situbondo dan Probolinggo,” imbuh Agustinus. Dijelaskan pula, penyakit yang menghantui para orang tua ini, tergolong penyakit menular melalui udara. Sehingga perkembangan penyakit ini dari waktu ke waktu terus berkembang pesat. Dan apa bila penyakit ini sudah menyerang korbannya, dapat menyumbat aliran darah, dan menyumbat saluran pembuangan. Sehingga si penderita ini bisa mengalami sesak nafas, dan detak jantungnya bisa berhenti. “Jadi kalau sudah parah kondisi nya, balita yang bersangkutan bisa dipastikan bisa bertahan lama ,” timpal Eko. Karena itu Eko menyarankan kepada para ibu lebih rajin mengikuti imunisasi, sebab imunisasi itu bagian dari upaya pencegahan penyakit Difteri. “Sehingga jangan mengabaikan imunisasi, dan jangan ogah – ogahan membaawa anak ke posyandu,” imbuh nya. roz
|