Peneliti Unmul Pastikan Kerangka Orang Utan2011-10-31 18:45:50
SAMARINDA,Tim peneliti Universitas Mulawarman memastikan bahwa tulang belulang yang ditemukan di Kutai Kartanegara oleh sejumlah wartawan nasional yang melakukan investigasi di perkebunan Sawit adalah orangutan (Pongo Pygmeus Morio). Indikasi pembantaian mencuat karena ada tanda kematian yang tidak alamiah. "Kita pastikan tulang-tulang rangka yang ada ini adalah tulang rangka orangutan dewasa jenis Morio. Contoh bukti sederhana, dari tulang rangka rahang kiri," kata Peneliti Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Universitas Mulawarman Samarinda, Dr Yaya Rayadin, dalam jumpa pers di kantornya, Sabtu (29/10) lalu. Tulang-tulang rangka yang ditemukan itu langsung diserahkan kepada PPHT Universitas Mulawarman Samarinda, Jumat (28/10) lalu untuk diteliti. Dengan maksud untuk memastikan tulang-tulang tersebut merupakan tulang orangutan yang sebelumnya mati dan diduga akibat dibantai warga yang yang tidak bertanggungjawab. Secara umum lanjut Yaya, tulang rangka yang dibawa sudah hancur dan terpotong-potong menjadi berbagai bagian. "Tulang-tulang yang kita teliti, setelah direkonstruksi, merupakan bagian tulang lengan yang lengkap dari satwa orangutan dewasa," tegas Yaya. Beberapa bagian dari tulang-tulang ini, merupakan bagian dari kaki orangutan (Hindlimb) yang berbentuk khas dan melengkung dan biasanya ukurannya lebih pendek dari bagian tulang lengan. Sementara itu bukti lainnya yang mempertegas bahwa tulang tulang itu merupakan tulang Orangutan adalah potongan rahang kiri yang masih terdapat gigi orangutan. Menurutnya, terdapat bagian gigi dan rahang yang terpotong dengan bekas potongan bepermukaan rata. "Seharusnya, tulang-tulang ini rapuh dan hancur dengan adanya mikrobakteri. Itu kalau orangutan, matinya secara alami semisal tergerus usia. Tapi, faktanya, tulang-tulang ini masih keras," jelas Yaya. Yaya enggan menjawab ketika ditanya wartawan apakah ada unsur kesengajaan untuk menghilangkan nyawa orangutan dengan membunuhnya. "Saya tidak berwenang mengatakan orangutan dari rangkaian tulang ini sebelumnya mati karena dibunuh. Meski memang kalau mati alami, pasti tulangnya sudah rapuh dan hancur karena mikrobakteri. Tidak keras seperti ini," sebut Yaya lagi. Sebelumnya beredar kabar tentang adanya dugaan pembantaian orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus), yang berlangsung sekitar tahun 2009-2010 lalu, di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Ironisnya polres Kutai Kartanegara yang tengah menyelidiki dugaan pembantaian orangutan itu hingga saat ini, belum berhasil menemukan tulang-tulang yang diduga tulang orangutan, yang disebutkan dalam pemberitaan tersebut. M4n
|