Ferry Tradisional Minim Alat KeselamatanTarif Penyeberangan Mobil Hingga Rp 45 Ribu
2011-12-01 03:10:17
TENGGARONG,Ferry penyeberangan tradisional menggunakan perahu kelotok merupakan alternatif yang sangat membantu masyarakat terutama warga Tenggarong dan sekitarnya pasca runtuhnya Jembatan Kartanegara. Namun disayangkan transportasi penyeberangan yang diandalkan itu minim alat keselamatan, seperti pelampung. Salah satu pengemudi jasa penyeberangan (ferry kelotok) yang enggan namanya disebutkan mengakui kenyataan tersebut, dimana di perahu kelotok yang dikemudikannya memang hanya ada beberapa pelampung yang jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah penumpang. Perahu itu sendiri diakuinya milik orang lain, sementara dia hanya membantu megemudikan. Seperti diketahui, warga sangat terbantu oleh adanya jasa penyeberangan ferry kelotok yang dioperasikan warga di beberapa titik sekitar kota Tenggarong. Salahsatunya adalah penyeberangan di Jalan Tanah Abang Kelurahan Mangkurawang Tenggarong, yang setiap harinya selalu diserbu calon penumpang. Kemarin (Rabu 30/11) antrean panjang calon penumpang yang ingin menyeberang ke Desa Loa Pari Kecamatan Tenggarong Seberang terlihat sejak pagi. Kondisi itu tentunya sangat menguntungkan penjual jasa ferry tradisional dan pemilik ferry pun meraup keuntungan yang berlipat ganda dibanding sebelum tragedi Jembatan Kartanegara. Menurut pengakuan pemilik ferry, pendapatan mereka yang sehari-harinya hanya Rp100 ribu melonjak tajam menjadi lebih kurang Rp 1 juta. Tarif yang mereka minta dari penumpang untuk sepeda motor dua ribu Rp 2 ribu per motor. Sedangkan untuk mobil di bandrol antara Rp 30 ribu. Namun untuk operasi malam hari, tarif penyeberangan bagi mobil naik menjadi Rp 45 hingga Rp 50 ribu per mobil. Khusus untuk tarif penyeberangan mobil, beberapa pemilik mobil yang menggunakan jasa ferry kelotok mengaku itu terlalu mahal, sehingga mereka berharap adanya perhatian pemerintah untuk menertibkan masalah tarif. Itu mengingat jasa ferry bakal berlangsung untuk waktu lama karena untuk pembangunan jembatan pengganti tentu butuh waktu beberapa tahun ke depan. Namun, dibalik keuntungan yang diraup pemilik ferry, ternyata berimbas pada kelancaran lalu lintas di sekitar pelabuhan ferry dan hal itu dikeluhkan banyak pengguna jalan. Sekalipun tidak selancar biasanya, namun upaya petugas dari Dishub yang diterjunkan di tiap titik penyeberangan mampu membantu mengurai keacetan akibat antrean yang menggunakan badan jalan. mad
|
Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

KAMIS
New User Login
Video News
To watch this video, you need the latest
Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...
Iklan...
Baca Edisi Sebelumnya
Pasang iklan anda disini...