Samarinda Tertinggi Jumlah Prostitusi2011-12-05 18:43:11
SAMARINDA, 1 Desember kemarin diperingati sebagai hari penanggulangan AIDS sedunia. Perkembangan jumlah penderita HIV AIDS di suatu wilayah biasanya berbanding lurus dengan tingginya aktivitas seks bebas yang disesiakan di berbagai tempat-tempat prostitusi yang resmi atapun yang ilegal. Berdasarkan data yang dibeberkan Lembaga Advokasi dan Rehabilitasi Sosial (LARAS) Kaltim, terdapat beberapa daerah yang memiliki jumlah prostitusi banyak. Di Kota Bontang misalnya terdapat dua tempat, yakni Prakla dan Km 24 di Kutai Kartanegara (Kukar). Sebagai Ibu Kota provinsi, Kota Samarinda memang terkenal dengan banyaknya tempat-tempat untuk pria hidung belang tersebut. Di antaranya, lokalisasi Solong, Bayur, Loa Hui. Tidak hanya itu, wilayah penelitian lembaga yang memang konsen terhadap penularan HIV AIDS ini juga menjadikan rumah tahanan (rutan) Sempaja, sebagai tempat peredaran penyakit mematikan tersebut. Hal ini tentu saja belum termasuk tempat-tempat seperti salon, panti pijat, yang berdasarkan duagaan juga menjadi lokasi empuk praktik esek-esek Direktur LARAS, Aslam mengatakan, jika dibandingkan dengan daerah lainnya, Kota Samarinda memang menjadi surga perkembangan tempat esek-esek. Bahkan, tempat prostitusi di Kota Tepian, katanya sudah melampui jumklah di Kota Tarakan, yang meliputi kawasan Gunung Bakso, dan Sungai Bengawan. "Untuk mendetksi jumlah penderita HIV AIDS biasanya memang dilatarbelakangi dengan jumlah prostitusi. Meksipun kadangkala, banyaknya tempat-tempat prostitusi belum menjamin tingginya penderita HIV AIDS di kawasan tersebut. Biasanya, aspek keamanan dalam melakukan ‘transkaski’ menjadi bagian yang cukup mempengaruhoi," ujar Aslam. Untuk melakukan pendekatan terhadap penderita HIV AIDS, LARAS, melakukan beberapa metode. Di antarnya, layanan penjangakaun, layanan konseling, layanan medis dan layanan rehabilitasi. Menurutnya, layanan penjangkauan di tujukan untuk menyebarluaskan informasi HIV AIDS, infeksi menular seksual (IMS) ke populasi risti (resiko tinggi). Tujuannya, kata dia, adalah adanya perubahan perilaku dari perilaku beresiko ke perilaku tidak beresiko. "Sedangkan layanan konseling adalah layanan yang diberikan kepada klien yang ingin memeriksakan status kesehatannya, apakah mengidap HIV atau tidak. Layanan ini tercakup dalam Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang dilakukan sebelum dan sesudah pengambilan darah," paparnya. Adapun, layanan medis terdiri atas layanan layanan kesehatan dasar, layanan pemeriksaan darah, Layanan pemeriksaan IMS dan layanan anti retroviral theravy (ART) ke para klien HIV positif. Layanan rehabilitasi tercakup dalam kegiatan Harm reduction atau pengurangan dampak buruk dari narkoba. Layanan ini terdiri atas layanan jarum alat suntik steril (LJASS), konseling dan layanan rehab. "Layanan rehab dilakukan baik secara medis dengan bekerja sama dengan rumah sakit rujukan, seperti Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada Mahakam Samarinda, dan pesantren Gaul untuk rehab spiritual," pungkasnya. aon
|