Dispernak Berau dan Provinsi Antisipasi Flu Burung2011-12-14 16:31:33
TANJUNG REDEB, Untuk menghindari mewabahnya penyakit flu burung (Avian Influenza) di Kabupaten Berau, Dinas Peternakan Berau dan Dinas Peternakan Provinsi Kaltim, kemarin melakukan sosialisasi di ruang Sangalaki Sekkab Berau. Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim H Ibrahim Mp, Asisten IV Pemkab Berau H Joni Marhansyah, Kadis Peternakan Berau Ir Gazali para peternak unggas, serta menghadirkan nara sumber Dr Suwarno MSi Drh i dari fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Dalam kesempatan itu Asisten IV Joni Marhansyah mengimbau kepada masyarakat, agar ikut berpartisipasi untuk menghindari ada nya penyakit flu burung di Kabupaten Berau, melalui pemeliharaan atau budidaya unggas dengan cara yang baik dan benar. Terlebih yang memelihara unggas di lingkungan pemukiman padat penduduk. “Karena memelihara unggas di pemukiman padat penduduk seperti itu resiko nya cukup tinggi, terhadap penularan flu burung,” ujarnya. Oleh sebab itu melakukan budidaya unggas ini harus memperhatikan kesehatan unggas yang dipelihara, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Mengingat kesehatan unggas dan kebersihan lingkungan ini sangat erat kaitan nya dengan mewabahnya penyakit flu burung. Jika ada unggas yang mati mendadak, dan kondisi nya meragukan, apa lagi berjumlah banyak, Joni meminta pengelola budidaya unggas ini segera melaporkan ke Dinas Peterenakan, agar segera ditindak lanjuti. “Ini penting, karena ini menyangkut keselamatan orang banyak,” tegasnya. Sementara itu kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim H Ibrahim Mp juga mengungkapkan, mewabah nya pengakit flu burung ini mengundang perhatian khusus di seluruh penjuru dunia. Mengingat penyakit ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, yang dapat mengakibat kan si penderita kehilangan nyawa. Oleh sebab itu, jika ada saudara atau tetangga sakit demam tinggi, batuk, pusing, tenggorokannya sakit, nyeri perut dan muntah, tak kunjung sembuh segera laporkan kepada Dinas Kesehatan setempat, agar segera dapat diambil tindakan, untuk mengtahui apakah itu tanda – tanda disebabkan gejala flu burung atau karena penyakit yang lain. Dia juga mengimbau epada budidaya unggas, jika ada rencana mengembangkan ternak unggas, harus mencari lokasi yang jauh dari pemukiman padat penduduk, agar warga setempat tidak mudah terkontaminasi terjangkit penyakit flu burung. “Cari lah lokasi yang strategis, jauh dari pemukiman penduduk. Supaya warga sekitar tidak marasa was – was, dan tidak mudah terserang penyakit flu burung,” pintanya. Dalam kesempatan itu dr Suwarno MSi, DRh juga mengungkapkan ada sembilan cara penanggulangan penyakit flu burung. Yang pertama meningkatkan biosecuryti, vaksinasi, depopulasi (pemusnahan terbatas) di daerah tertular, pengendalian lalu lintas unggas, surveilans (penelusuran), pemusnahan menyeluruh di daerah tertular baru, pengisian kembali kandang, peningkatan kesadaran masyarakat, monitoring eveluasi. Begitu juga prinsip dasar peternakan bebas flu burung, yang pertama pemeliharaan ternak unggas satu jenis dalam lingkungan tertutup. Jangan membeli atau memelihara hewan baru, bersihkan secara berkala pekarangan, kandang dan peralatan. Jangan izin kan orang lain masuk ke dalam peternakan. Simpan dan kelola kotoran unggas untuk ppuk. “Kalau cara – cara semua itu diterapkan, saya optimis ternak kita bebas flu burung,” ungkapnya. Oleh karenanya semua itu tergantung pengelola peternak unggas dan kepedulian masyarakat, untuk memperhatikan kebersihan lingkungan. Sebab, penyakit itu datang disebab kan faktor lingkungan yang tidak bersih, sehingga penyakit atau virus tersebut cepat berkembang biak. “Tapi saya percaya kepedulian warga Berau cukup tinggi terhadap lingkungan. Sebab daerah lain disibukkan dengan penyakit flu burung, tapi Berau sejauh ini aman dari penyakit flu burung. Meski begitu saya harap tetap waspada, karena penyakit itu datang tiba – tiba, ” tegasnya. roz
|