Melihat Balai Adat Dayak Gaai Long LanukDigunakan Pertemuan Adat, Hingga Tempat Mengungsi
2011-12-21 17:01:11
TANJUNG REDEB, Balai adat bagi masyarakat Dayak Gaai di Kampung Long Lanuk Kecamatan Sambaliung mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Keberadaan balai menjadi begitu penting dikarenakan semenjak masyarakat dayak mengubah kehidupan mereka yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain menjadi kehidupan yang menetap. Ketika masyarakat berpikir untuk menetap pada suatu tempat yang dianggap mereka cocok, maka mereka juga berpikir untuk mendirikan bangunan sebagai tempat tinggal dan pertemuan bagi warga maupun keluarga mereka. Kemudian timbul kebutuhan dari mereka akan suatu tempat tertentu yang digunakan sebagai tempat penyelenggara upacara-upacara adat dan ritual yang berhubungan dengan agama yang mereka anut, dari sinilah tempat itu yang kemudian menjadi tempat upacara yang dikenal dengan rumah adat atau disebut juga balai adat. Banyak orang mengira, balai adat hanya digunakan sebagai tempat melaksanakan upacara-upacara adat orang-orang dayak, tapi kalau kita lihat masyarakat Dayak Gaai yang bermukim di Kampung Long Lanuk ternyata balai adat atau rumah adat ini mempunyai beberapa fungsi. Bukan hanya sebagai tempat ritual keagamaan yang biasanya rutin mereka gelar dalam beberapa bulan seperti mengadakan upacara mengawali musim tanam, upacara bapalas, upacara panen, perkawinan, kematian dan lain-lain, bahkan balai adat ini juga menjadi tempat pagelaran berbagai kesenian khas mereka. Dan biasanya dalam upacaranya ini tidak hanya dihadiri oleh komunitas suku Dayak itu sendiri tetapi juga oleh masyarakat luar bahkan turis asing pun terkadang datang untuk menyaksikan upacara adat ini. Selain sebagai tempat ritual keagamaan ternyata balai adat ini juga mempunyai fungsi sebagai tempat sosialisasi dan interaksi masyarakat Dayak Gaai yang bermukim di wilayah tersebut, baik membicarakan masalah yang bersifat hanya di lingkungan keluarga maupun juga masalah yang bersifat umum, yang biasanya dibahas secara terbuka dengan dihadiri oleh seluruh anggota dan dipimpin oleh ketua adat. Balai adat Dayak Gaai di Kampung Long Lanuk ini terlhat berbeda dengan balai adat dayak pada umumnya. Di balai adat long lanuk ini memiliki tiang penyangga yang lebih tinggi. Selain itu, banguan rumahnya tidak berbentuk persegi empat sama sisi, melainkan berbentuk bujur sangkar. Dibagian tangga balai adat ini tidak memiliki anak tangga seperti pada umumnya, melainkan sebilah kayu yang dipahat untuk memudahkan dalam berinjak. Di ujung tangga tampak sebuah kepala patung sebagai tanda akhir dari tangga tersebut. Sementara dibagian ruangan balai adat hanya sebuah ruangan tanpa sekat-sekat kamar. Diatas ruangan itu barulah terdapat sebuah ruangan kamar yang khusus diperuntukkan bagi seorang ketua adat atau pun seorang tuan putri. Antonius Kepala kampung Long Lanuk mengatakan, balai adat ini sangat penting bagi warga Dayak Gaai, baik untuk pertemuan, penyambutan tamu maupun sebagai lokasi prosesi adat. “Bangunan balai adat ini merupakan bantuan dari PT Berau Coal, bangunan ini merupakan hasil rahab balai lama yang kondisinya sudah mulai lapuk akibat dimakan usia,”ujarnya. Dia mengatakan, balai adat ini sengaja dibuat tinggi, selain untuk tempat pertemuan adat juga digunakan sebagai lokasi mengungsi jika banjir besar disaat melanda kampung. Sedangkan tangga balai adat sengaja dibuat dengan senbilah pohon agar tangga tersebut dapat ditarik keatas jika waktu tidur tiba. “kalau dulu ceritanya, tangga ini sengaja dinaikkan keatas agar musuh ataupun binatang buas tidak bisa naik ke atas balai ini,”jelasnya. (Helda Mildiana)
|