Program Kemas Bantu Perekonomian Warga Suaran2011-12-22 18:32:24
TANJUNG REDEB, Meskipun kaya dengan sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, Kampung Suaran tidak ingin terpaku dengan sumber daya alam tersebut. Kampung yang berada di wilayah Kecamatan Sambaliung ini juga berupaya mengembangkan hasil perikanan berupa budidaya perikanan dan hasil tangkap nelayan. Terbukti dengan hanya bantuan dana sebesar Rp 30 juta, kampung ini mampu meningkatkan perekonomian wargannya melalui modal usaha kepada nelayan untuk lebih meningkatkan hasil produksi tangkap ikan dan hasil budidaya perikanan. Bantuan sebesar itu digulirkan kepada para nelayan, baik digunakan pembelian alat tangkap ikan, transportasi melaut hingga pengembangan budidaya perikanan. Bantuan program itu di berinama program Kelompok Masyarakat atau yang akrab disapa warga program Kemas. Program ini diluncurkan oleh perusahaan tambang yang beropersi di wilayah itu dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sesuai potensi yang dimiliki oleh Kampung Suaran. Program itu dijalankan langsung oleh masyarakat Kampung Suaran, tentu saja di bawah pengawasan pemerintahan kampung, badan pemberdayaan kampung serta organisasi kemasyarakatan yang akan di kampung tersebut. Tiga tahun berjalan, program Kemas tersebut menuaikan hasil, terbukti dana bergulir yang dipinjam nelayan yang diujudkan dalam bentuk pinjaman 8 buah mesin ketinting sebagai sarana transport nelayan, kini telah berkembang menjadi 16 unit ketinting. Dari dana bergulir itu juga terwujud dua perahu nelayan. Saat ini juga tengah berkembang sektor budidaya ikan air tawar, yang mana disektor ini berkembang penjualan bibit ikan nila, mas dan patin untuk kebutuhan para pengusaha keramba dan tambak ikan di Kampung Suaran Murdi, Kepala Kampung Suaran mengatakan, bantuan dana bergulir dari program Kemas ini sangat dirasakan warga. Meski dananya terbatas, namun warga bisa memanfaatkannya dengan baik sebagai modal usaha. “Sebenarnya banyak warga yang menginginkan dana bergulir tersebut, namun sayangnya dana yang tersedia sangat terbatas,” ujarnya. Kampung suaran juga berencana akan mengusulkan kembali penambahan dana program Kemas tersebut, paslanya program bantuan dana bergulir ini tidak hanya diminati warga yang berprofesi didunia perikanan, namun dinantikan juga oleh warga yang bergelut disektor perkebunan dan pertanian. Terutama pada sector perkebunan kakao. Perkebunan kakao di wilayah ini telah berkembang sejak puluhan tahun silam. Berkebun kakao diibaratkan sebagai tabungan masa depan, selain bernilai jual tinggi dan mudah dipasarkan, perkebunan kakao ini juga dijadikan sebagai sarana penyambung perekonomian warga dimasa depan. Hampir separuh warga Kampung Suaran menekuni tanaman ini, demikian juga halnya dengan budidaya tanaman pangan lainnya, seperti padi, juga dengan tanaman sayur - mayur lainnya. Yang tak kalah serunya warga Suaran juga tengah mengembangkan perkebunan kelapa sawit. “Dengan berkembangnya sector pertanian dan perkebunan ini, tentu saja masyarakat Suaran membutuhkan modal yang tidak sedikit sehingga bantunan dana bergulir itu sangat dinantikan,”ungkapnya. Menurut Murdi, sector perkebunan dan pertanian ini sangat menjanjikan, bahkan perkebunan kelapa sawit di wilayah ini sudah dilirik investor untuk membuka pabrik pengolahan minyak mentah alias CPO (crude palm oil). Murdi menyebutkan, kampung suaran yang berpenduduk hampir 2 ribu jiwa ini memiliki pekerjaan yang bervariasi, sedangkan sebagian besarnya bekerja sebagai karyawan perusahaan tambang. Sedangkan sisanya yang berprofesi sebagai petani, nelayan hingga mengelola perkebunan. Meski banyak warga bekerja sebagai karyawan perusahaan, tradisi untuk berkebun dan bertani tidak bisa hilang dari kebiasaan warga. Alasannya tidak lain, perkebunan dan pertanian ini dijadikan sebagai tabungan hidup dimasa depan. “Di wilayah kami sudah tumbuh hampir 40 hektar tanaman kakao. Sedangkan sawit sudah tersedia 4 ribu hektar untuk dikembangkan,” ungkap Murdi Murdi berharap, sektor perkebunan ini bakal menjadi penyambung perekonomian warga, pasca perusahaan tambang diwilayahnya itu berhakhir. “Habis tambang, mucul perkebunan. Jadi warga tidak bingung lagi mencari pekerjaan baru,” imbuhnya. hel
|