Warga Samarinda Seberang Keluhkan Jalan Rusak2011-12-22 18:50:49
SAMARINDA, Warga Samarinda Seberang mengeluhkan kerusakan jalan dan meminta Pemerintah Provinsi Kaltim ikut turun tangan membantu perbaikan jalan tersebut saat anggota DPRD Kaltim asal Dapil I, Siti Qomariah, melakukan reses di Samarinda, 13-18 Desember 2011. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melakukan pertemuan dengan warga delapan kelurahan dan 40 RT di Kecamatan Samarinda Seberang. "Warga umumnya mengeluhkan persoalan jalan. Jalan-jalan lingkungan di Samarinda Seberang masih banyak yang rusak. Ada jalan yang sudah baik, terus menerus diperbaiki. Tapi ada jalan yang rusak, tidak pernah disentuh perbaikan sama sekali," kata Siti Qomariah, Selasa (20/12) kemarin. Warga juga menyoroti perbaikan Jalan Bung Tomo, yang sebagian ditinggikan dengan cor beton. Apabila hujan deras turun, air melimpah ke rumah-rumah warga, sehingga menimbulkan banjir karena di kiri kanan jalan tak dibangun drainase yang memadai. Ada pula lubang di ruas Jalan Bung Tomo yang dibiarkan menganga, akibatnya seringkali menimbulkan kecelakaan lalu lintas. "Masalah kendaraan-kendaraan berat yang melintas di jalur jalan di Samarinda Seberang tanpa pengawasan dari aparat juga dikeluhkan warga, karena mempercepat kerusakan jalan yang ada. Ini perlu mendapat perhatian dari Dinas Perhubungan dan Kepolisian," kata politisi yang lama berkarier di dunia perbankan ini. Warga Samarinda Seberang juga mengeluhkan banyak sampah tak terangkut oleh Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman Pemerintah Kota Samarinda. Siti Qomariah memberikan solusi agar warga dapat memilah-milah sampah yang dibuang dan menjadikannya barang bermanfaat, seperti kompos atau kerajinan rumah tangga. Sambil dia juga mencarikan solusi penambahan kontainer dari Pemerintah Kota Samarinda maupun bantuan pemerintah provinsi. "Soal penataan wilayah Samarinda Seberang juga perlu mendapat perhatian, seperti ketentuan bangunan 12 meter dari tepi jalan atau 23 meter dari as jalan, yang disyaratkan dalam IMB. Ini agar jangan sampai Samarinda Seberang semrawut seperti Samarinda Kota. Makanya perlu kedisiplinan bersama, termasuk warga," kata Siti Qomariah. Sedangkan dalam pertemuan dengan warga Jl AM Sangaji di tepi bantaran Sungai Karang Mumus, Siti Qomariah mendapat keluhan masalah masih mahalnya biaya pendidikan. Ada dana Bosda, tapi murid masih dipungut dengan alasan dana Bosda lambat cair. Juga buku yang mahal dan setiap tahun berganti, sehingga tak dapat digunakan berkesinambungan oleh kakak hingga adik. Siti Qomariah menyampaikan bahwa pada APBD 2012 pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran untuk bantuan buku paket, sehingga diharapkan beban masyarakat berkurang. "Masalah lahan-lahan pertanian yang dialihkan menjadi areal tambang batubara, maupun lahan pertanian yang terganggu aktifitas tambang batubara juga menjadi keluhan masyarakat. Di Lampake ada kumpulan wanita tani, kasihan nasib mereka ini kalau tidak dibantu pemerintah. Harus ada kepastian lahan-lahan pertanian berkelanjutan ini dilindungi," kata Siti Qomariah. Dia juga menangkap harapan dari masyarakat agar pemerintah provinsi serius melaksanakan program-program pemberdayaan rakyat. Harus dilaksanakan berkesinambungan dengan target yang jelas, yakni hingga masyarakat yang dibina benar-benar bisa mandiri. Jangan terkesan sekedar melaksanakan program demi penyerapan anggaran, seperti selama ini. Siti Qomariah memberikan contoh, Dinas Sosial apabila memberi pelatihan menjahit, maka warga yang dilatih harus tuntas menguasai keterampilan menjahit tersebut, sehingga mereka bisa mandiri. "Jangan sekedar mengadakan pelatihan, tapi warga yang dilatih belum terampil, program sudah berhenti, pindah program baru lagi," kata Siti Qomariah. hms/adv
|