Warga Pedalaman Terhalang Rayakan Natal

Dampak Jebolnya Tanggul PT SBE

2011-12-28  17:57:54

TANJUNG REDEB, Jebolnya tanggul PT Sumber  Bara Energi (SBE) yang menutupi ruas jalur provinsi Berau – Samarinda, Sabtu (24/12), mendapat sorotan  dari anggota DPRD Berau Rudi P Mangunsong.
Menurut dia, jebolnya tanggul tersebut menunjukkan ketidakprofesionalan perusahaan mengeksploitasi Sumbar Daya Alam  (SDA) di Kabupaten Berau. Akibat kejadian tersebut, banyak warga pedalaman yang ingin merayakan hari raya Natal di Kota Tanjung Redeb terhalangi.
Pada awalnya dia sudah memprediksikan bahwa keberadaan tanggul yang ada di jalur Labanan – Teluk Bayur tersebut pada saatnya nanti membawa petaka bagi masyarakat Berau. Pasalnya, di areal tersebut daerah resapan airnya sangat minim. Sehingga saat datangnya musim penghujan, tanggul itu dipastikan tak mampu menampung air. Dan ternyata prediksi anggota Komisi III DPRD berau ini  benar adanya.
Kuat dugaan, tanggul itu tak mampu menampung air hujan. Sehingga jebol, dan yang terkena dampaknya adalah masyarakat yang memanfaatkan jalur tersebut.
Pasalnya, jalur darat itu  satu – satunya penghubung dari pedalaman ke Kota  Tanjung Redeb itu tertimbun longsoran tanggul tersebut sekitar sepanjang 100 meter. “ Exavator saja nggak bisa lewat,apa lagi kendaraan umum. Jadi bisa dibayangkan berapa meter ketinggian longsoran tanggul itu,” ungkapnya.
Akibat jebolnya tanggul sekitar pukul 11:00 Wita itu,  dampaknya pun sangat meluas, selain warga pedalaman yang notabene umat Kristen, seperti di Kecamatan Kelay dan Kecamatan Segah yang ingin merayakan natal di Tanjung Redeb merasa terhalang. Aktifitas warga lainnya pun juga ikut terhalang, seperti menjual hasil cocok tanam petani ke pasar Sanggam Adji Dilayas, masyarakat yang bepergian ke Samarinda atau ke Balikpapan menggunakan transportasi darat, karena tak mampu beli tiket pesawat, dan aktifitas masyarakat lainnya hampir semua terhalang.
“Kalau ada yang mengatakan kejadian itu karena fenomena  alam, saya sangat tidak sependapat. Karena kejadian itu kesalahan fatal manusia, sebab alam dan cuaca tak bisa disalahkan,” tegasnya.
Menurut dia, semestinya pada saat tanggul itu dibuat, pihak perusahaan harus merencanakan dengan perhitungan yang matang, bagaimana jika terjadi sesuatu nanti tidak merugikan masyarakat.
“Kalau sudah terjadi seperti sekarang, apa mungkin pihak perusahaan bisa mengembalikan kondisi jalan aspal itu seperti semula,” tanya Rudi dengan nada kecewa.
Oleh sebab itu, seyogianya pihak perusahaan jangan hanya tahu nya mengeksploitasi SDA di Berau, tapi bagaimana  rasa kepedulian dampak lingkungan itu bisa ditunjukkan kepada masyarakat. Jika perusahaan hanya mau nya mengeksploitasi SDA, tanpa memikirkan dampak lingkungan, suatu saat bencana lebih besar akan mengancam warga Bera, jika carut marut pertambangan di Berau tidak segera dibenahi .
“Jadi cukup dua  kata, stop tambang, kalau tidak ingin Lapindo dua terjadi di Berau,” tegasnya lagi.
Oleh sebab itu secara tegas dia juga mengingatkan kepada instansi terkait, agar meningkatkan pengawasan yang lebih ektra, terhadap semua aktivitas  perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara di Kaupaten Berau, dan jangan mudah mengaluarkan ijin, jika perusahaan yang bersangkutan tidak bisa memenuhi standar keselamatan lingkungan. roz

Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

KAMIS
KAMIS
New User Login




Video News
To watch this video, you need the latest Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...

 
 
 
 
 
 
 
 
Iklan...
Raih sukses didepan mata
Media promosi online poskota kaltim.com sarana terpercaya untuk mempromosikan usaha anda dalam sekejap akan dilihat oleh dunia

Ucapan Terima Kasih
Segenap Pimpinan dan Seluruh Staff Atas kepercayaan Anda Membuka WebSite Kami

Hotline
Editorial
Solusi
Surat Pembaca
Polling
Berita apa saja yang menurut anda sangat diminati pembaca poskotakaltim
Daerah
pariwisata
hukum
Pendidikan
perekonomian
semua berita
 
total pemilih : 1233 | Lihat Hasil
Pasang iklan anda disini...